Kamis, 20 April 2017

Menyambut Hari Kartini Dengan Film Kartini


Selamat Hari Kartini untuk Ibu Kartini yang sudah tenang di sisi-Nya.
Selamat Hari Kartini untuk wanita pejuang emansipasi dimanapun kalian berada.
Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, komunitas yang saya ikuti yaitu Earth Hour Malang diundang oleh Komunitas Penggerak Pecinta Film Indonesia (KPPFI) untuk sama-sama menonton film Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo. Tanpa fikir panjang, karena lagi bosen skripsian dan juga penasaran sama filmnya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton.


Yuhuu, nobaaar :)

Film yang dibintangi oleh Dian Sastro dapat dikatakan adalah film biografi karena menceritakan kehidupan RA Kartini dari anak-anak hingga menjadi dewasa dan akhirnya menikah.

Pada film ini, ada beberapa scene yang membuat kita tau sisi lain dari kehidupan Kartini yang berbeda dengan buku sejarah sekolah kita. Akhirnya wawasan saya mengenai seorang Kartini bertambah luas. Saya jadi tau alasan mengapa Kartini memperjuangkan emansipasi wanita dan peran keluarganya dalam mendukung cita-cita Kartini tersebut. Selain itu, saya akhirnya juga tau asal usul dari seorang Kartini selain ia adalah puteri dari Bupati Jepara. Kamu harus fokus di menit terakhir ketika Ibu Kartini cerita pengalaman hidupnya mengenai Bupati Jepara, itu cerita yang paling saya gak tau selama saya belajar sejarah. Ini entah saya yang gak pernah baca buku sejarah, tidur dipelajaran sejarah, atau memang di pelajaran sejarah tidak pernah diceritakan.

Selain itu, wawasan saya mengenai budaya Jawa zaman dahulu juga bertambah. Mengapa seorang gadis harus dipingit, kapan seorang gadis dipingit dan pembebasannya, dan aturan-aturan lain dalam budaya Jawa zaman dahulu.

Alur pada film ini juga ringan sih, jadi enak aja gitu buat ngikutinnya. Gak harus mikir berat-berat, sehingga cocok banget di tonton ketika kita butuh hiburan dan juga cocok ditonton oleh semua umur. Settingnya juga keren, bener-bener memperlihatkan suasana Jepara pada zaman dulu. Gambar untuk film overalljuga bagus, tajam gitu jadi warnanya jelas. Tapi ketika scene di Belanda itu kaya keliatan gak nyata gitu sih dan scene di sawahnya juga ada yang kaya editan gitu.

Kardinah, Kartini, Roekmini (Gambar dapat di sini )

Hal yang saya sesalkan dalam film ini adalah beberapa dialog para pemain yang seakan dibuat-buat agar bener-bener “njowoni” jatuhnya jadi jawa campuran Indonesia gitu. Karena saya orang Jawa asli dan kebetulan saya tau bahasa Krama Inggil dan bahasa jawa jogjaan jadi rada geli dan aneh ketika para tokoh ngomong. Ya emang harap dimaklumi sih soalnya ada beberapa tokoh yang memang bukan orang Jawa.

Dan yang paling membuat saya kecewa adalah endingnya. Duh, sumpah kurang gereget. Saya pikir ya kaya di buku sejarah gitu ceritanya sampai Kartini meninggal dan bagaimana bukunya itu “Habis Gelap Terbitlah Terang” bisa ada. Tapi ini cerita selesai sampai Kartini nikah aja. Kaya kurang gitu loh, huuuf

Tapi saya tetep salut oleh film-film seperti ini, selain mengingatkan kita pada sejarah juga membuat kita semakin cinta dengan film Indonesia.

Maaf ya, kalo reviewnya spoiler dan gak pinter review soalnya saya ya kurang begitu paham mengenai cinematrografi. Jadi riviewnya apa yang saya rasakan aja dan saya bandingkan dengan film-film serupa. Review ini juga terlepas dari kasusnya Dian Sastro yang lagi anget-anget itu ya, pure ini berdasarkan apa yang saya rasakan.

Kalo ditanya “jadi kamu rekomenin filmnya gak shya?”
Yah, kalo mau nambah wawasan singkat dan cari sesuatu buat hiburan bolehlah ditonton filmnya.

Sampai Jumpa
Semoga Bahagia

Selasa, 11 April 2017

Dari Wagir Hingga Riverside



Haloo, saya kembali lagi setelah sebulan tidak menjamah blog ini dengan sebuah cerita saya di hari Minggu kemarin.

Jadi Minggu, 9 April 2017 kemarin saya dan teman-teman kabinet dari EHM rapat. Rapatnya rada beda dari biasanya. Yah biasanya kami rapat di cafe atau di taman tapi hari itu kami memutuskan untuk rapat di salah satu rumah teman kami yaitu Aldike.

Kami bersepuluh dengan anggota Mbak Ilma, Tiara, Salsa, Amanda, Ogix, Frido, Fikri, Mas Dimbo dan Saya berangkat ke rumah Dike sekitar pukul 9 yang sebelum itu ada drama nunggu Frido (like as usual doi selalu telat) di pom bensin jam set 7 janjiannya tapi baru berangkat jam set 8. Kami gak langsung kerumah Dike, tapi kami Salsa dulu soalnya cuma Salsa yang tau rumahnya Dike. Setelah sampai dirumahnyas Si Salsa kami gak langsung cuss ke rumah Dike karena kami sarapan dulu. Biasalah awalnya enggak, enggak, eh giliran satu orang ambil sarapan yang lainnya ngikut ya udah deh pada sarapan semuanya. Setelah sarapan itulah kami baru berangkat yang bener-bener berangkat.

Sekitar 30 menit kami sudah sampai di rumahnya Dike. Deket ternyata, gak kaya yang dibilang anak-anak kalo rumah Dike yang tepatnya ada di Wagir itu jauh. Sampai di rumah Dike kami ditawarin sarapan, karena kami sudah sarapan akhirnya kami menolaknya dan mengusulkan untuk di jadikan makan siang saja.

Rapat dimulai, banyak pembahasan kali itu. Tapi karena banyak guyonnya jadi gak kerasa sudah Dhuhur dan rapat diakhiri. Setelah makan siang dan sholat kami meneruskan agenda untuk #explorewagir. Sayang sekali, Frido dan Ogix ada urusan jadinya gak ikut agenda selanjutnya. Awalnya kami mau ke salah satu coban yang ada di Wagir namanya Coban Glotak tapi karena waktu yang sudah siang dan jauhnya perjalanan ke coban itu akhirnya kami memutuskan untuk ke Sumber Sira yang ada di GondangLegi.

sumber sira pas sepi (dapet di sini )

Oh iya, sebelum itu sebenernya saya sudah pernah ke Sumber Sira sewaktu Kelas Inspirasi (ada disini kalo mau baca). Bedanya perjalanan saya ke Sumber Sira kali ini dengan sebelumnya selain beda orang juga beda rute. Rute kali ini kami bisa membawa motor masuk sampai parkiran beda dengan rute kemarin yang harus tracking melewati sawah. Sayangnya jalannya masih makadam gitu, jadi kalau hujan ya becek dan sedikit sulit. Sumber Siranya sih masih sama, Cuma sekarang lebih ramai pengunjung, ramai warung yang menjual makanan ringan hingga berat, bahkan ada juga yang berjualan celana buat ganti. Oh iya, untuk tiket masuk ke Sumber Sira satu orangnya dikenakan tarif 3000 dan 2000 untuk parkirannya.

Fikri dan mas dimbo slulup wkwk

Minggu itu saya tida senekat pertama kali saya ke Sumber Sira, iya kali ini saya gak tergoda untuk nyemplung. Alasannya karena sudah pernah, gak bawa ganti juga, males rempong, dan juga ramai. Tapi dua teman saya Fikri dan Mas Dimbo tergoda untuk nyemplung. Saking semangatnya mereka sampai-sampai celana Fikri robek. Mana robeknya gak kira-kira lagi, masa iya robek dari depan sampai belakang.

ini under waternya ( dapet di sini )

Setelah lelah, akhirnya kami sepakat untuk pulang. Eh, tunggu dulu. Cerita tidak berakhir sampai disinii. Jadi sebenernya kami itu ada bertigabelas, nah si Fuad berhalangan hadir ada urusan. Si Ojan karena masih kuliah doi ada praktikum dan Si Aldo gak bisa dateng karena operasi mata ikan. Jadi setelah kami dari Sumber Sira kami setuju untuk menjenguk Aldo di Riverside. Kalo orang Malang pasti tau dari Wagir ke Riverside itu jauhnya kaya apa, yah buat gambaran sih bisa dikatakan dari ujung ke ujung. Namanya juga sayang, sejauh apapun pasti dijengukin sama kami hahaha.

Dirumah Aldo kami dibuat ketawa karena cerita Mamanya si Aldo kalo si Aldo ini 3 dari 100 pasien dokter itu yang di operasi nangis dan teriak-teriak heboh. Bayangin aja deh, Si Aldo ini mahasiswa akhir atlet renang pula udah umurnya gede badannya juga tapi nangis di operasi. Ya mungkin memang sakit sih, tapi kaya lucu aja gitu kalo inget kelakuannya tapi dioperasi mata ikan nangis. Mana doi di godain mulu sama adeknya, haha

Pelajaran yang bisa saya ambil dari sakitnya Aldo adalah “Kalo kemana-mana jangan lupa pake sandal”. Gitu kali ya do ya?

Selesai cerita saya di Minggu ceria. Meskipun gak ikut naik delman istimewa dan duduk dimuka sama ayah di kota karena ayah saya di Ngawi. Saya bahagia banget bisa berkunjung kerumah teman-teman saya. Rasanya home sicknya sedikit terobati.

Sampai Jumpa

Semoga Bahagia