Sabtu, 04 Maret 2017

40 km/jam : Prolog



Malang sore itu terasa syahdu, ketika Rere memutuskan untuk menghabiskan sorenya di kedai langgannya dulu di pojokkan Jalan Patimura. Sudah lama Rere tidak berkunjung ke kedai kopi itu. Sekarang atau empat tahun lalu, kedai kopi itu terasa masih sama tak ada yang berubah. Hot chocolate dan Green tea lattenya masih seenak dulu. Suasana tenang yang kedai itu ciptakan juga masih sama dengan empat tahun lalu. Bahkan, senja di kedai itupun masih sama dengan empat tahun lalu.

Sesuatu yang membuatnya terasa berbeda adalah dulu, empat tahun lalu, ada seseorang yang selalu menemani Rere untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan senja di kedai tersebut. Rere sendiri tak tau kemana perginya dia yang selalu menemaninya pergi ke kedai kopi itu. Sudah hampir empat tahun dia menghilang. Rere tak mengetahui dimana keberadaannya terlebih lagi kabarnya. Dia seakan menghilang bersama dengan kenangan masa lalu Rere.

 “line”

Bunyi dari telfon gengam Rere membuyarkan lamunannya.

Dari : Mutee
Untuk : Rere 02
Pesan :
Re, lo udah di Legipait?
Bentar ya, gue nungguin Abi nih katanya masih jemput adiknya sekolah.

Mutee mutee, gadis ini ya cerewetnya masih sama seperti dulu. Jadi kangen.
Gumam Rere dalam hati.

Secepat kilat, Rere membalas pesan dari sahabatnya dan memberitahu Mutee bahwa ia sudah menunggunya di tempat dimana mereka membuat janji.

***

30 menit kemudian Mutee datang bersama dengan Abi.

Di kedai kopi favorit Rere inilah akhirnya ketiga sahabat yang sempat terpisah selama empat tahun berkumpul kembali. Mutee dengan wajahnya yang riang dan senyumnya yang masih semanis dulu duduk di depan Rere sedangkan Abi duduk di samping Mutee.

Tanpa dikomando, setelah duduk Mutee langsung memberondongi Rere dengan berbagai macam pertanyaan.

“Re, kemana aja sih lo empat tahun ini? Anjir ngilang kaya ditelan bumi. Terus dimana Rendy sekarang re? Lo masih sama dia re? Gue sahabat lo tapi gue bener-bener gak tau kabar lo empat tahun ini.”

“Tek, satu-satu dong Rere bingung tuh jawabnya” tukas Abi.

Sementara Mutee dan Abi dengan wajah serius menunggu jawaban Rere, Rere tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Undangan pernikahan.

“Aurelia Aurita Nugroho dan Aditya Riza Soeryadjaya. Maksud lo re?” tanya Mutee terheran-heran.

“Ya gue mau nikah tek, bulan depan. Itu undangan buat lo sama Abi. Datang ya.”

Angin sore di Malang tiba-tiba terasa dingin dan menusuk tulang gadis yang bernama lengkap Mutiara Hapsari yang biasa dipanggil Mutee ketika tiba-tiba sahabat masa SMAnya menyodorkan undangan pernikahan.

Mengapa tiba-tiba re? Gumam Mutee dalam hati.

“Re, gue harus dapat penjelasan ini dari lo. Semuanya. Bukannya lo benci banget sama Adit? Kenapa lo tiba-tiba bisa nikah sama dia re? Rendy kemana re?”

Mutee tidak tahan. Ia mengutarakan semua apa yang menjadi pertanyaannya.

Rere nikah? Dengan Adit? Apa gak salah? Bukankah selama ini Adit adalah manusia yang paling dibenci Rere? Lalu kemana Rendy? Laki-laki yang dicintai sahabatnya?

“Lo kebiasaan deh tek, satu-satu biar Rere gak bingung jawabnya”.

Rere tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya. Ingatannya menerawang jauh pada kejadian-kejadian masa lalunya bersama sahabatnya ketika duduk di bangku SMA. Masa putih abu-abu itu tidak akan pernah Rere lupakan. Masa dimana ia mengenal dunia luar, masa dimana ia bisa merasakan cinta pertamanya, masa dimana ia mengerti bahwa pertemuan akan berakhir dengan perpisahan.

Satu per satu puing-puing kejadian masa lalu tergambar jelas di ingatan Rere. Senyum di bibir manis gadis berumur 23 tahun itu semakin mengembang ketika puing kejadian pertemuannya dengan Rendy tergambar jelas.

Rendy Hudo Yusodo

Laki-laki berperawakan tinggi, putih, dan bermata sedikit sipit itu akan terus memenuhi kenangan Rere selama masa putih abu-abunya. Laki-laki yang selalu menemaninya ke kedai kopi dimana Rere sekarang berada. Laki-laki yang Rere tidak tahu dimana keberadaan atau kabarnya.

“Re, jawab dong“

Rere tersadar dari lamunannya.


Ia kemudian menyeruput Hot chocolate favoritnya dan mulai menjawab serentetan pertanyaan dari sahabatnya, Mutee.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Haha, gimana? masih cupu banget ya?
Menerima kritik dan saran yang membangun, terimakasih ;')