Sabtu, 27 Agustus 2016

Penuh Warna di KOMINFO BEM FP UB 2015

Kominfo kuuuh :*

Tau gak rek?
Aku kangen rapat sama kalian. Rapat di samping gedung FP dengan waktu molor hampir dua jam, awalnya aku selalu marah tapi kalau udah ketemu kenapa selalu gak bisa marah sih? Aku masih heran, kalian pake mantra apa sih bikin orang seneng terus?

Tau gak rek?
Aku kangen rempong sama kalian. Rempong ketika twitter di kritik ini itu. Rempong ketika nyari sound gak nemu-nemu. Rempong ketika gak dapet panggung LKM buat acara SIT. Rempong ketika bikin totebag dan kaos tapi vendornya molor. Rempong ketika bikin quiz instagram tapi dikit yang ikut. Tapi aku bahagia banget ketika kita bisa berhasil buat acara yang bermanfaat buat mahasiswa FP. Aku bahagia banget ketika followers instagramnya naik drastis dan aku bahagia ketika BEM FP UB punya official account ketika BEM-BEM lain belum ada yang punya.

Tau gak rek?
Aku kangen main sama kalian. Meskipun awalnya pengen ngecamp tapi gak jadi. Awalnya pengen berangkat jam 6 tapi akhirnya berangkat jam 7. Meskipun selalu ruwet kalo janjian, tapi aku selalu seneng kalau kumpul sama kalian. Ada aja loh yang dibahas dari A sampai ZzZ mungkin. Dari habis maghrib sampai subuh. Dari mata melek sampai bolak-balik nguap.

Tau gak rek?
Aku kangen foya-foya sama kalian. Yah, meskipun kita gak punya duit, gak ada anggaran yang turun buat kita dan sok-sokan kaya sampai akhirnya jual gorengan tapi itu buat aku inget sama kalian. Ingetkan kita bikin malam SIT petjaaah di depan BEM pake buat panggung segala. Nobar di panggung LKM nyewa sound 600 ribu? Atau sok-sokan foto di rooftop BWOJ Hotel dengan makanan seporsi ratusan ribu trus karaokean serasa disana jadi tempat khusus kita?

Intinya, AKU KANGEN KALIAN REK.

Jadi begini awal ceritanya.

BPH sok iye :p

Di tahun 2015, saya diamanahkan menjadi pengurus harian di BEM FP UB 2015 dan di tempatkan di Kementerian Komunikasi dan Informasi menjadi Dirjen Komunikasi Publik. Ranah kerja dari Dirjen Komunikasi Publik ini berhubungan dengan pemberian informasi kepada mahasiswa pertanian. Mudahnya sih tukang ngurusin sosmed sama mading gitu. Awalnya sih saya udah berniat gak mau ikut organisasi di tahun 2015, tapi karena dimintai tolong akhirnya saya mau juga. Di Kominfo ini saya ditemani oleh Mas Tito (Mentri Kominfo), Fefi (Sekretaris Kominfo), dan Aji (Dirjen Pengembangan Media). Kami berempat belum saling mengenal sebelumnya sampai akhirnya Kominfo mempertemukan kami dan seperti ada bunyi “klik” di awal pertemuan kami itu.
Setelah melakukan open recruitmen untuk staff BEM FP UB 2015, akhirnya KOMINFOpun memiliki personil baru yaitu Febrian, Galih, Iqbal, Dani, Cukup, Dessy, Tamia, Oci, Sasa dan juga staff mudanya yaitu Lita, Ainun, Syifa, Fitri, Ibnu dan Faiz. Kominfo kali ini selain tugasnya mengupdate informasi melalui media sosial juga memiliki proker yaitu SIT ( Pelatihan desain ilustrasi dan pembuatan video serta lomba video dokumenter), nobar dokumenter, dan quiz twitter serta instagram.  Jalan yang kami lalui untuk menjalankan proker tersebut gak semulus pahanya cherrybelle. Banyak halangan yang kami lalui untuk menjalani proker tersebut dari tempat yang telat dipinjem, dana proker yang gak turun, sampai harus jualan buat nalangin dana. Tapi dari itu semua saya jadi banyak belajar. Belajar manajemen waktu buat kuliah dan organisasi, manajemen sumberdaya manusia, manajemen uang, dan juga belajar sabar.

Maafkan Ashyanita ini ya suka marah-marah gak jelas sama kalian, tapi percayalah itu tanda cinta kasih ke kalian kok. Kadang kalau udah marah nyesel loh, soalnya ngerasa bego banget marah-marah gak jelas gitu kenapa coba? Padahalkan aslinya sayang banget sama kalian. Semoga pengalaman 10 bulan sama kalian bisa aku inget ya sampe nanti tua terus diceritain ke anak cucu. Aku bahagia banget bisa ketemu, kenal, dan jadi keluarga kalian di Kominfo ini. banyak warna yang Ashya rasain selama berada di Kominfo.

berbagi bersama kominfo, muaaach :*

See you on top gaaais, keep in touch yaaa...
Jangan susah-susah kalau di ajak main, kangen

Sampai jumpa

Semoga bahagia


Jumat, 26 Agustus 2016

Lika-liku di Pantai Tiga Warna


-ambil posisi yang enak ya, soalnya ini postingan yang panjang kali lebar kali tinggi-

Sesuai dengan kesepakatan tim 20 official bahwa pada tanggal 20 Agustus kami pergi ke Pantai Tiga Warna. Awalnya rencana untuk main di gagas oleh teman-teman wajak squad yang udah saya ceritain disini, namun karna kami kekurangan personil akhirnya kami mengajak teman yang lain dan cukuplah rombongan sebanyak 20 orang untuk pergi ke Pantai Tiga Warna. Pantai Tiga Warna tidak sembarang pantai, pantai ini istimewa. Sehingga untuk mengunjunginya kita harus melakukan booking terlebih dahulu, minimal dua minggu sebelum tanggal kedatangan. Karena proses mencari rombongan itu tidak mudah, maka dari itu baru h-seminggu kami bisa membooking untuk tanggal kedatangan 20 agustus. Awalnya sempet panik kalau gak bisa kebooking soalnya Pantai Tiga Warna ini udah terkenal akan keindahan bawah lautnya, pasti banyak yang ingin menghabiskan weekendnya ke sana. Ditambah lagi saya sms berkali-kali untuk booking tidak ada balesan sama sekali. Sampai pada suatu siang saya dan Frido taruhan. Kalau sampe dapet pantainya saya bakalan masak chicken blackpaper ala-ala saya dan Frido bakalan nraktir saya jank-jank. Dan sms balesan yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga dengan ucapan Selamat. Wuhuuu, ini artinya sih kita bakalan ke Pantai Tiga Warna dan itu artinya taruhan saya dan Frido harus di lakukan. Gapapa, yang penting kesampaian ke Pantai Tiga Warna. Horeeee...

Pantai Tiga Warna udah berhasil di booking, selanjutnya adalah nentuin mau pake apa kesananya. Ada yang usul pake motor dan ada juga yang memberikan usul pake mobil aja biar gak kehujanan. Karena dengan diskusi kami tidak mendapatkan jawaban akhirnya kami voting dan menggunakan motor keluar sebagai pemenangnya. Saya pikir keribetan mau ke Pantai Tiga Warna berhenti sampai disini, ternyata masih terus berlanjut. Di hari-hari menuju hari H satu per satu anggota rombongan mengundurkan diri. Ada yang karena akan ikut job fair, tes kerja, sampai mau nemuin dosen pembimbing. Ya karena kita juga gak bisa memaksa, mau gak mau kami relakan enam teman kami yang tidak jadi ikut. Sekarang tinggal tersisa 14 orang dalam rombongan sehingga biaya untuk iuran guide harus bertambah. Oh iya, selain melakukan booking untuk berkunjung ke Pantai Tiga Warna, rombongan yang kesana juga harus menyewa guide untuk menunjukkan jalan dari Pantai gatra ke Pantai Tiga Warnanya. Satu guideuntuk sepuluh orang dengan biaya seratus ribu. Karena kami berempat belas, mau tidak mau kami harus menyewa dua guidedengan biaya totalnya dua ratus ribu. Mayan juga kalau dibuat beli bakso ya :p

Rame ya :p

Kami sepakat pada tanggal 20 itu kami berkumpul di alun-alun jam 6 pagi agar kami cepat sampai di Pantai Tiga Warnanya. Tapi rencana hanya jadi rencana saja. Masih ada aja oknum-oknum yang telat. Akhirnya kami baru berangkat sekitar pukul delapan pagi. Nah, disini nih saya mulai bete. Gak suka aja loh sama orang-orang yang telat ini. Kalo kata temen saya jaman semeser 5, itu orang-orang yang telat adalah orang-orang yang tidak bisa menghargai waktu dan pengorbanan orang lain. Yah, bayangin aja sih kalian udah berusaha dateng on time jam 6 terus ada temen kalian yang baru datang jam 8, apa kalian gak capek nunggunya? Apa kalian gak berkorban bangun pagi biar gak telat? Yaudahlah ya, kita doakan orang-orang yang suka telat agar segera bertobat saja, heheu

Perjalanan ke Pantai Tiga Warna yang terletak di Malang Selatan membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga jam perjalanan. Entahlah, saya lagi apes atau apa. Ditengah perjalanan yang khidmat bisa-bisanya dan tumben-tumbennya telkomsel nelpon saya. Hmm, langsung saja saya ketusi kalo saya lagi di jalan. Eh, baru mau nutup telpon tiba-tiba motornya masuk ke lubang dan “jedug” rasanya saya mental. Ya Tuhan, untung gak jatuh hiksss

Tak lama setelah saya di telpon Telkomsel, tulisan Pantai Tiga warna yang sedari tadi saya cari akhirnya keliatan juga. Rute perjalanan dari Malang ke Pantai Tiga Warna sama dengan ke arah Pantai Gatra yang saya tulis disiniatau disini.

Sebenarnya Pantai Gatra dan Pantai Tiga warna ini bersebelahan. Loket masuknya saja satu. Bedanya kalau kita ke Pantai Gatra tidak menggunakan guidesedangkan kalau kita ke Pantai Tiga Warna kita harus menggunakan guide. Dan mereka sama-sama di area CMC (Clungup Magrove Conservation). Kalau kata guide yang nemenin rombongan saya, alasan Pantai Tiga Warna harus bookingdan menggunakan guide adalah karena pengunjung ke Pantai Tiga Warna di batasi sehingga ekosistemnya tidak rusak dan terganggu, termasuk sampah yang dihasilkan pengunjung. Oh iya, sebelum rombongan masuk ke Pantai Gatra maupun Tiga warna, rombongan selalu di cek mengenai sampah yang di bawa agar sampah yang dibawa tidak di buang di pantai melankan dibawa kembali pulang oleh para pengunjung. Sayangnya pos pengecekan sampah ini tidak ketat, sehingga pengunjung masih bisa berbohong dan menyembunyikan sampahnya.

Pantai Gatra, sekarang udah ada kapal gituan :'

Sebenernya ada dua track jalan yang ditawarkan guide untuk menuju Pantai Tiga Warna, yaitu full track yang bisa ditempuh sekitar satu jam perjalanan dan rombongan akan mendapatkan tiga pantai sekaligus, dan satunya track pendek yang dapat ditempuh selama 15 menit tapi rombongan tidak mendapatkan tiga pantai melainkan langsung diantar ke Pantai Tiga Warna. Karena saya dan teman-tean sudah tidak sabar untuk snorkeling, akhirnya kami memilih untuk track pendek saja mengingat juga hari sudah siang.

Cerita di Pantai Tiga Warna menjadi sangat berwarna ketika keapesan saya berlanjut. Kacamata snorkeling yang saya gunakan ternyata rusak sehingga membuat air mudah masuk ke mata dan ke hidung. Jadi saya gak nyaman snorkelingnya takut-takut tenggelem soalnya saya gak bisa renang juga. Akhirnya saya merapat ke tepi dan cerita ke salah satu teman saya, dia mengusulkan lebih baik saya menukar kacamata itu soalnya lumayan berbahaya. Ya karena alasan teman saya itu logis dan saya gak mau mati konyol juga, saya putuskan untuk menukarnya. Tapi bukan smabutan baik dari guide yang saya terima malah saya harus drama, adu mulut, dan saya dimarahi oleh guide tersebut. Dia bilang bahwa kacamatanya baik-baik saja, padahal jelas-jelas itu patah dan bisa kapan saja putus talinya. Karena saya gak mau berurusan panjang, saya tinggal saja guide itu dan mencari guide saya di tempat penyewaan alat snorkeling. Disana saya agak sedikit kaget karena alat snorkeling yang selesai dipinjam tidak di cuci hanya dicelupkan di air dan diangkat. Padahal sepengalaman saya snorkeling di Gili Labak, selesai alat snorkeling di pinjam langsung direndam dan dicuci. Padahal kan alat snorkeling itu di pakenya di mulut, bukannya dari mulut itu penyakit mudah banget nular ya? Hmm, entahlah. Hanya bisa berdoa semoga kita sehat-sehat saja.

pemandangannya bagus Gatra, sumpah deh

Kekecewaan saya tidak berhenti dari guide yang telah tidak sopan memaki pengunjungnya tapi juga keadaan Pantai Tiga Warna yang jauh dari pikiran saya semula. Pantainya kotor pemirsa, banyak sampah plastik. Bahkan ketika snorkeling bukan ikan yang dilihat teman saya melainkan popok/pampers di tambah air yang keruh. Dan ketika penjaga pantai di tanya dimana spot rekomen untuk snorkeling, kami hanya ditertawakan dan di tinggal pergi. Parahnya lagi ketika ada dua teman saya yang terkena sengatan ubur-ubur tidak ada satu guidepunyang bisa melakukan pertolongan pertama untuk kasus tersebut. Saya bertanya-tanya dalam hati apa ini guidenyadadakan jadi gak ada latihan penolongan pertama gitukah? Setelah saya lihat di om gugel, penolongan pertama disengat ubur-ubur itu mudah dan tidak memerlukan alat-alat. Tapi mengapa para guideyang lumayan banyak disana tidak tahu? Yah, seperti menyesal membayar dua ratus ribu untuk yang seperti ini. selain itu juga, sepanjanh perjalanan menuju Pantai Tiga Warnapun dari dua guide yang kami sewa tidak ada yang bercerita asal-usul Pantai Tiga Warna atau apapunlah yang sekiranya berkaitan dengan Pantai Tiga Warna. Kecewa saya, kecewa.

Cukup sekali sajalah saya pergi ke pantai tiga warna yang dielu-elukan keelokannya ini. Mungkin saya sedang tidak beruntung, sehingga ketika pergi kesana tidak mendapatkan guide yang profesional, tidak mendapatkan pengalaman snorkeling yang indah karena airnya kotor, dan tidak mendapatkan pelayanan atau fasilitas yang seharusnya. Semoga ini hanya keapesan saya, semoga teman-teman yang berkunjung ke sana mengalami pengalaman yang indah dan amazing.

berasa gak di pantai, tapi kolam renang :'

Nulis kritik kalau gak diberi saran kaya lempar batu sembunyi tangan. Untuk itu saya punya sedikit saran untuk pengelola Pantai Tiga Warna agar kedepannya bisa lebih baik lagi
1. Benar-benar dibatasi kuota untuk kunjungan ke Pantai Tiga Warna dan diberikan informasi kepada pengunjung ketika pantai sedang kotor atau tidak cocok dilakukan snorkeling.
2.  Guide/pemandu wisata lebih belajar lagi mengenai Pantai Tiga Warna. Lebih aktif bercerita bukan hanya berfungsi sebagai penunjuk jalan saja.
3. Guide/pemandu wisata dibekali atau diberi pelatihan mengenai penanganan pertama mengatasi keseleo, tersengat ubur-ubur, terkena bulu babi, atau ketika pengunjung tenggelam.
4. Alat snorkeling dibersihkan sesuai standart kebersihan
5. Alangkah lebih baiknya penjual di Pantai Tiga Warna ditiadakan. Banyak penjual yang akhirnya membuat banyak sampah. Hal ini tidak sesuai dengan larangan pengunjung yang tidak diperbolehkan membuang sampah sembarangan tapi dibalik itu masih banyak penjual di sana.
6. Sopan santun guide lebih ditingkatkan. Kasian pengunjung bayar mahal-mahal tapi diperlakuan tidak dengan semestinya.

Bukan maksud apa-apa sih saya bercerita seperti ini, Cuma pengen sekedar sharingpengalaman aja mudah-mudahan bermanfaat untuk pengelola Pantai Tiga Warna dan pengelola pantai-pantai lainnya.  Semoga kedepannya Pantai Tiga warna bisa menjadi pantai elok tidak hanya pada awal dibuka tapi untuk seterusnya.

tetep berasa summer time kok :p

Terimakasih pengalamannya teman-teman 20 official, meskipun kita kurang beruntung semoga apa yang kita rasakan bisa bermanfaat dan membantu pelestarian alam.

Sampai jumpa
Semoga bahagia

Sabtu, 20 Agustus 2016

Kangen ke Pantai Gatra dengan Kominfo Tercinta


Sekitar tahun 2015, saya diamanahkan menjadi penggurus harian di BEM FP UB 2015 sebagai dirjen komunikasi publik. Kerjaannya ngapain? Ah, nanti akan saya ceritakan di postingan selanjutnya ya. Soalnya ceritanya panjang dan pengen ngenalin anggotanya satu per satu. Intinya semasa saya menjabat saya ditemani dengan tiga penggurus harian lain di Kominfo dan 9 staff kesayangan di Kominfo. Karena telah melakukan proker ini itu, manjalani aktivitas setiap harinya maka kami sepakat untuk melakukan up gradingatau sebut saja refreshing buat evaluasi kerja kita dan biar kedepannya kami semangat buat melanjutkan tugas yang diberikan. Akhirnya kami sepakat untuk main bareng di salah satu pantai di Malang Selatan yaitu Pantai Gatra pada 10 Juni 2015. Awalnya kami ingin menginap biar tambah seru dan semakin akrab, tapi karena satu sama lainnya sibuk jadi kami memutuskan untuk main-main saja yang penting berkumpul dan bukan wacana.

Setujulah kami berangkat dari Malang jam 6 pagi, tapi tetep ada aja oknum yang membuat kesiangan. Akhirnya karena semua pada kelaparan, kami memutuskan untuk makan dulu di Padang Murah dan membungkusnya untuk makan disana. Sekitar jam 9 kami berangkat dari Malang dengan 12 orang rombongan, termasuk adek saya yang kebetulan lagi di Malang buat daftar ulang kuliah.

Perjalanan kurang lebih tiga jam akhirnya membawa kami ke Pantai Gatra yang terletak di daerah Sumbermanjing, Malang Selatan dan di area Clungup Magrove Conservation. Rute untuk menuju pantai ini dari daerah Malang ikuti saja rute menuju sendang biru, nanti di jalan pasti ada penunjuk arahnya. Sesampainya di pertigaan ikuti arah ke pantai Goa Cina dan di sebelah kiri jalan nanti ada penunjuk untuk ke Pantai Gatra. Dulu, sewaktu saya ke sana jalannya amsih kecil dan tulisannya juga kecil jadi jangan kenceng-kenceng nanti kebablasan. Kemudian dari jalan situ ikuti jalan dan kanan jalan akan ada penunjuknya lagi kepantai. Jalan ini kalau menurut saya lebih mirip gang diantara rumah-rumah dan jalannya masih tanah. Jadi, kalau hujan dipastikan bakalan susah jalan. Karena kami naik motor, jadi kami bisa membawa motor untuk parkir di dekat loket. Kemudian di loket ini selain membayar tiket masuk juga checkingsampah yang kami bawa. Setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan menuju pantai gatra. Tiket masuk Pantai Gatra 5000 dan biaya parkir 5000.

Dari loket, kami harus berjalan kurang lebih 10 menitan untuk mencapai bibir pantai Gatra. Perjalanannya lumayan mengasyikkan, kami melewati hutan-hutan dan area konservasi magrove. Selain itu kita juga bakalan melewati salah satu Pantai yang bernama Pantai Clungup. Tapi sayang Pantai Clungup ini biasa aja sih, airnya cokelat, panas, dan baunya amis sekali. Dulu saya pernah cerita main di Pantai Clungup di postingan yang ini, padahal itu Pantai Gatra. Yah, maapin ya dulu gak tau. Setelah melewati Pantai Clungup, berjalan 500 meteran akhirnya kami sampai juga di Pantai Gatra. Welcome beach, yaay...

bagus ya, ini hasil para cowok foto.di belakang :'

Perjalanan menuju Pantai Gatra kami terpisah menjadi dua rombongan kala itu, soalnya rombongan cowok-cowok foto-foto dulu di area magrove. Saya sama Fefi malah buru-buru pengen sampai pantai soalnya mau ngasih kejutan ulang tahun buat Galih dan Iqbal. Yah, meskipun sedikit failed soalnya apinya kena angin pantai, tapi tetep Selamat Ulang Tahun boy, sukses selalu.

dari atas, ciamiklaah

Di Pantai Gatra kami bermain pasir, air, bercerita-cerita, sampai ada waktu dimana saya di bawa ke tengah sama teman-teman saya buat ngrasain ombak tapinya failed karena saya megap-megap gak mau dan megang tangan gak tau siapa gak mau di lepasin takut tenggelem soalnya gak bisa renang. Sempet juga kami sok-sokan ngerekam underwater tapi gak keliatan apa-apa. Yang awalnya ingin upgrading jadinya malah bercandaan dan kami melupakan tujuan awal kami untuk evaluasi. Gak papa, yang penting kami satu sama lain bisa akrab dan erat kekeluargaannya.

duyung?

Sekitar pukul 3 sore, karena kami juga sudah lelah bermain akhirnya kami memutuskan untuk pulang. diperjalanan pulang kami mampir sebentar di Pantai clungup sekedar ingin tau pantainya. Sebenernya sih gak rela sih pulang soalnya lagi asyik banget, kapan lagi bisa kumpul banyak gini. Tapi saya berterimakasih banget ke teman-teman yang udah meluangkan waktunya buat kumpul dan bermain bareng. Love love Kominfo sampe kapanpun...

adek saya dan saya di Clungup

Hikss, cerita gini jadi kangen kalian deh. Kapan kita bisa main lagi kemana gitu? Pada sibuk ya? Udah pada semester banyak, saya juga magang dan bentar lagi mulai skripsian. Ih, sumpah nulis ini karena kangen momen itu. Kangen bercanda sama kalian, yuk kapanlah kita main lagi ya. Main di BEM juga gapapa, hehehe

I miss you keluarga kecilkuu,
Semoga kita punya satu waktu untuk berkumpul bersama

kangen :'

Sampai jumpa
Semoga bahagia

Rabu, 17 Agustus 2016

Kemerdekaan(ku) versi 2016


Selamat hari merdeka ke 71 Indonesiaku.
Sepertinya masyarakat Indonesia banyak sekali yang mendoakanmu di hari yang spesial ini. Ada yang mendoakan tambah jaya, tambah sukses, atau bahkan tambah cetar? Entahlah, semoga yang terbaik selalu menyertaimu, Indonesiaku.
Banyak orang mendefinisikan arti kata MERDEKA. Berbeda, setiap orang akan berbeda-beda mendefinisikan kata tersebut. Bebas dari penjajah, bebas menentukan nasib bangsanya, atau bebas dari teror sang mantan pacar yang ingin balikan. Berbeda, dan perbedaan tersebut harus kita hargai. Sama halnya dengan saya, saya juga akan mendefinisikan arti kata MERDEKA yang berbeda dengan orang-orang. Menurut saya MERDEKA itu tidak hanya sekedar BEBAS, tapi MERDEKA itu BERJUANG kembali. Berjuang untuk kehidupan yang lebih baik lagi. Apa Indonesia setelah MERDEKA lalu diam saja dengan nasibnya waktu itu? Tidak, Indonesia masih terus BERJUANG menghadapi perang-perang setelah kemerdekaan. Indonesia terus BERJUANG untuk mencerdaskan anak bangsanya. Indonesia terus BERJUANG dari belenggu kemiskinannya. Dan Indonesia akan terus BERJUANG untuk Indonesia yang lebih baik lagi agar bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di luar sana.

Saya ? Yah, saya juga ingin merdeka di tahun 2016 ini dengan tetap BERJUANG. Kemerdekaan versi saya di 2016 ini adalah

1.     MERDEKA dari discount-discount belanja
Ini yang utama, ini yang selalu ngabisin tabungan. Saya harus benar-benar berjuang untuk tidak terbuai oleh discount-discount belanja. Seperti cewek kebanyakan, nafsu belanja saya juga besar. Maka dari itu, untuk bisa berhemat saya harus bisa menahan diri untuk belanja apapun. Makanan, minuman, baju, sepatu, bedak atau apapun itu. Semoga saya tidak tergiur, semoga saya tidak khilaf, agar uang saya bisa lebih berguna untuk berbagi kepada orang-orang lain yang membutuhkan. Harus diingat bahwa rezeki yang kita miliki bukan sepenuhnya milik kita, tapi ada beberapa yang dititipkan Tuhan untuk orang lain.

2.     Anak-anak PEDALAMAN harus MERDEKA dari tuna aksara
Bukan saya, tapi saya harus memperjuangkannya. Sedih ketika semua orang bilang Indonesia telah merdeka 71 tahun tapi masih banyak anak-anak bangsanya yang belum melek huruf. Apa kabar Indonesia nanti kalau orang-orang yang meneruskan bangsanya belum bisa baca? Bagaimana Indonesia bisa sejajar dengan bangsa lain jika pendidikan bangsanya saja belum sejajar?

3.     Hey, hemat energi untuk anak cucu kita
Apa kamu bisa tidak membuka hapemu selama satu hari? Apa kamu bisa tidak menggunakan lampu selama satu hari? Apa kamu mau anak cucu kita tidak merasakan asyiknya bermain hape? Tidak kan? Untuk itu, ayo kita bersama-sama untuk menghemat energi. Tidak usah yang susah-susah, cukup matikan lampu atau buang saja sampah pada tempatnya. Mudah kan? Merdeka adalah bisa menyelamatkan bumi ini.

4.     MERDEKA dari pembodohan publik
Hahaha, kaya mau ketawa tapi gak ada yang di ketawain. 2016 ini emang bener-bener efek sosial media bisa menyentuh semua kalangan dari atas sampai bawah. Keinget kasus awkarin yang nangis-nangis gitu jadi viral, anak-anak kecil yang omongannya tambah hari tambah gak genah, orang pada nyinyir sana sini sok tau semuanya semua gara-gara sosial media. Plis rek, pinter sithik po o. Saringlah mana yang harus di ikuti, mana yang baik, mana yang buruk. Jangan semua-semua langsung di serap gitu aja. Dunia semkain hari semakin maju, teknologi semakin hari semakin maju, masa kita manusia semakin hari semakin bego sih? Lelah lah hayati sama orang-orang yang mau hits terus ikut-ikutan foto pake baju minim, kebun bunga bagus-bagus dirusak, trap trip sana sini sekolah gak bener, lelah incees lelaah .

5.     Semoga saya cepet MERDEKA dari kasus KOPI SIANIDA
Emang sih gak penting. Tapi saya kaya terbelenggu gitu sama kasus MIRNA-JESICA ini. Penasaran setengah mampus siapa sih sebenernya yang bunuh. Atau jangan-jangan MIRNA bunuh diri? Tiap kali nonton berita isinya ini mulu, jadi bete tapi ya penasaran, terus gimana dong? Yah, semoga kasus ini cepat terselesaikan jadi nanti saya gak kepikiran lagi hehe
Hmm, jangan-jangan habis ini kalian bilang “ AKU JUGA INGIN MERDEKA DARI BLOG INI, KEMBALIKAN 500MB KU” karena udah baca postingan yang gak bermanfaat ini. Semoga postingan ini ada manfaatnya dikit, dikit aja gapapa dari pada saya harus mengembalikan 500 mb, hehe

Jadi, merdeka versi kalian apa?

Sampai jumpa
Semoga bahagia

Minggu, 14 Agustus 2016

Nyusup di School Campaignnya KKN 41 UMM


Seperti yang saya ceritakan di postingan saya sebelum ini bahwa saya sedang melaksanakan kegiatan magang kerja saya di Sidoarjo. Tetapi karena ada yang ketinggalan, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Malang di minggu ke dua saya. Eh, baru mulai minggu ke tiga saya dapet pesan dari teman kos kalo saya dapet surat dan paket. Karena saya penasaran setengah mampus, akhirnya weekend di minggu ketiga saya magang, saya sempatkan untuk kembali ke Malang. Dan setelah di belain ke Malang ternyata isi surat itu kartu ucapan selamat idul fitri. Ngenes gak sih Malang-Sidoarjo motoran dua jam terus ternyata dapet zonk gitu? Padahal kan ekspektasi saya dapet balasan surat dari mantan, eh maksudnya surat warisan gitu, hehe. Karena males gabut di kosan saya memutuskan untuk ikut aksinya Earth Hour Malang yang kebetulan di undang oleh mahasiswa KKN UMM di Wajak untuk mengisi materi. 


Persiapan singkat kita lakukan dan kesepakatan mengatakan bahwa volunter EHM berkumpul di McD Watu Gong untuk kemudian dijemput oleh salah satu rekan KKN 41 jam 7 di sabtu pagi 6 Agustus 2016. Setelah volunter EHM berkumpul, berangkatlah kami ke wajak yang dalam sejarah di wajak ini pernah di temukan fosil Homo Wajakensis dan di wajak ini juga pernah di bangun Jembatan Asa SCTV.

Di perjalanan menuju Wajak kami para volunter asyik sekali bercerita dari materi yang nanti akan kita berikan, flashback aksi, cerita liburan, sampai cerita mantan. Karena asyik bercerita seakan kami melupakan dua mas-mas yang sudah baik hati menjemput kami, akhirnya obrolan dengan mereka kami mulai. Dari obrolan basa-basi itu ternyata fakta mebuktikan bahwa mas-mas itu bukanlah mahasiswa yang sedang KKN melainkan salah satu masnya pacarnya KKN trus dimintain tolong gitu. Duh, masnya so baik syekali huhuuu...

Wajak Squad ( dari kiri ke kanan : Frido, Alvi, Cicit, Mbak Ucin, saya, Mbak Del, Mas Wan)

Setelah gaktausihberapalamagakngitungakhirnya kami sampai juga di tujuan kami yaitu Wajak. Kami langsung diantar ke sekolah di mana kami akan melakukan aksi di sabtu cerita tersebut. Kali ini aksi yang akan kami lakukan adalah School Campaign. Hampir sama sih sebenernya dengan aksi SC sebelumnya, bedanya disini kami gak nyari sekolah sendiri, kami tinggal datang dan ngasih materi. Rencananya aksi ini kami bakalan ngasih materi sampah dan energi yang kemudian di lanjutkan dengan role play pembuatan tempat spidol dari botol.

Sambutan hangat sangat kami rasakan ketika baru menginjakkan kaki di sekolahnya. Siswa-siswinya langsung bersalaman dan caper-caper gitu, emeuush jadinya. Belum lagi gurunya yang ramah dan teman-teman KKN yang sangat baik dan asyik.

Setelah beberapa menit berbincang dengan Mas Ali yang notabene adalah ketua dari KKN 41, akhirnya tiba juga untuk kita melakukan aksi. Materi pertama pada aksi ini adalah materi sampah yang kebetulan pematerinya adalah saya. Awalnya deg-degan, bingung juga gimana ngejelasin materi ini soalnya yang dikasih materi adalah adik-adik kelas 3 SD. Mikir bentar, dan ahaaa. Ide-ide sok ajaib muncul di kepala. Saya coba menyampaikan materi dengan sangat sederhana dan intermezo serta pengulangan dan penekanan pada kata kunci yang penting agar materinya bisa masuk ke adek-adek. Setelah saya memberikan materi dilanjutkan temen saya yang kemarin baru launching blog barunya memberikan materi. Saya duduk membaur dengan adek-adeknya di bawah, dan menurut saya si frido temen saya ini juga agak kesusahan untuk memberikan materi energi kepada anak kelas 3 SD, tapi kebingungan kita semua bisa teratasi dengan semangat adek-adek, horaaaay

Sok iye ya saya :p

Selesai materi, saatnya role play. Mendengar kata-kata tersebut adeknya senang bukan main yang menambah semangat kami yang sedang aksi. Kelas di bagi menjadi beberapa kelompok dengan setiap kelompok terdapat 4 anggota dan satu kakak pembina. Kemudian masing-masing kelompok diberi botol, lem, gunting untuk membuat role playnya. Kebetulan saya juga pegang satu kelompok untuk dibimbing dalam pembuatan kotak spidol itu. Mereka semua antusias, membantu ini itu, bercerita ini itu, aaah saya selalu suka berada diantara anak-anak kecil ini.

keriweuhan

Setelah Keriweuhan

Karena waktu yang diberikan tidak banyak, mau tidak mau berakhirlah aksi kami hari itu. Perpisahan harus kami lakukan dengan adek-adek MI Tahfidz Hidayatul Muttaqin Desa Blayu  Meskipun berpisah, tapi kami semua senang sekali karena sudah belajar bersama untuk menjaga lingkungan. Semangat ya adek-adekku, ingat jangan buang sampah sembarangan yaaa...

Selesai dari sekolah kami di jamu oleh teman-teman KKN 41. Gak nyangka, teman-teman KKN 41 super duper plus plus baiknya. Udah kami dijemput, kami juga di jamu dan diantar pulang. Semoga apa yang dilakukan teman-teman KKN 41 bermanfaat dan menjadi pahala buat teman-teman semuanya, aamiin.

Haloooo

Di perjalanan pulang selain kami nyanyi-nyanyi mengikuti lagu yang di putar mas-mas baik, kami juga cerita-cerita dan keceplosanlah ide saya untuk mengajak liburan wajak squad (saya, Mbak Del, Frido, Alvi, dan Mbak Ucin) ke pantai tiga warna. Yang dalam updatean terakhir ini kami sudah membuat grup di line, sudah booking pantai tiga warna, dan anggota yang ikut sudah 20 orang. Hmm, ditunggu saja ya updatean berikutnya dengan cerita ala saya di blog ini, semoga tidak ada halangan ya.

Dua anak cukup ya mas?

Sampai jumpa

Semoga bahagia

Jumat, 12 Agustus 2016

Dedek Emesh Penanggungan 1653 mdpl

“ san, pelan san “
“ eh, eh, aku mau jatuh “
“ yg lain mana ya? “
“ duh, jangan diem aja san. Aku jadi ngantuk “

Kata-kata yang menemani perjalanan saya menuju pos awal gerbang masuk gunung penanggungan Mojokerto. Waktu itu saya di bonceng sama salah satu rombongan teman saya naik gunung yang bernama Sandy. Wajarlah kalo saya sedikit cerewet, soalnya si Sandy ini naik motornya udah kenceng trus jalan rusak dan polisi tidur di trobos, alhasil saya mental-mental gitu deh. Ditambah saya dan Sandy baru pertama kenal, belum ada topik pembicaraan jadi ya diem-dieman anteng. Untung saya sedikit cerewet, mancing-mancing doi ngomong. Kalau gak diajak ngomong nih, saya bakal tidur. Kan bahaya ya.

Ini Sandy yang udah mau bonceng saya hehe

Perjalanan sekitar dua jam, akhirnya rombongan ini sampai juga di gerbang masuk penanggungan. Jadi pada kesempatan naik gunung saya yang kedua ini, saya naik gunung dengan my best friend Ajjes dan doi ngajak satu teman angkatannya di FPIK UB serta teman doi naik gunung. Dan kenapa judul saya seperti itu, karena ternyata teman ajjes naik gunung itu adalah anak-anak SMA kelas dua SMA dan waktu itu saya sudah semester tiga, hahaha.

Sebelum memulai pendakian gunung penanggungan 23 september 2014, 24 pendaki termasuk saya berdoa terlebih dahulu, supaya dalam perjalanan kami diberi kelancaran. Setelah itu kami mulai berjalan langkah demi langkah. Awalnya saya berada di posisi depan dan sok-sokan kuat gitu deh, tapi setelah setengah perjalanan napas saya mulai satu dua. Alhasil Ajjes harus pelan-pelan nemenin saya. Tapi dengan semangat 45 yang menggelora akhirnya kami sampai juga di pos bayangan dan mulailah kami mendirikan tenda. Demi apapun saya kalau ke gunung pasti gak bawa tenda, matras, SB, dan semuanya pasti dibawain karena ya memang gak punya dan kebetulan ada temen yang punya trus dipinjemin.

Bodyguard wkwk

Setelah tenda jadi, kamipun masak. Karena memang dasarnya saya tukang tidur setelah kenyang makan yang lain pada ngobrol saya malah berniat untuk tidur. Waktu itu sih pas malem gak begitu dingin, tapi menjelang pagi dinginnya gilaaaaa banget. Sampe saya udah pake tiga jaket dinginya masih nusuk di tulang. Sebenernya pengen lihat sunrise, tapi karena gak kuat dingin akhirnya naik ke puncaknya sekitar jam set 5an. Jadi nikmati sunrisenya di perjalanan ke puncak.

Halo Pennaggungan

Perjalanan ke puncak ini bener-bener nguras tenaga banget, soalnya jalannya lumayan curam dan rumput batu. Jadi jalan yang harus ngadep ke depan ini mah jadi ngadep ke bawah. Untung sih gak nabrak-nabrak orang. Hehe. Sesampainya di atas saya benar-benar kagum dengan ciptaan-Nya. Saya bisa melihat berbagai gunung yang dekat dengan Penanggungan ini. Gak pernah gak bisa terpesona dengan indahnya gunung, pasti TERPESONA pake banget-banget. Setelah cukup berfoto, bercengkerama, menikmati indahnya ciptaan-Nya, akhirnya kami memutuskan untuk turun dan melanjutkan tujuan kami selanjutnya yaitu PULANG.

Sukak foto ini heheu

Baru kali ini dapat pengalaman naik gunung dengan rombongan terbanyak dan termuda. Ih, mana emeeush banget sama mereka ganteng-ganteng dan baik-baik #entahlahngomongapa. Pengen balik lagi ke penanggungan, soalnya belum sempet lihat sunrise di puncak. Semoga diberi umur panjang ya, biar bisa balik ke sana lagi, aamiin.

Ini temen saya Ajjes :)

Paling mengesankan perjalanan ke penanggungan ini adalah saya tidak kebelet pupping, karena di perjalanan saya ke gunung selalu saya pupping, heheuuu. Dan perjalanan ini bener-bener saya nikmati bahkan capeknya gak berasa. FYI, saya berhasil membawa kamera saya ke puncak untuk pertama kali. Uuuh ayo ajak saya naik gunung lagi : (

Gimana? Banyakkan wkwk

Yuk naik gunung, 2016 belum naik nih...

Sampai jumpa

Semoga bahagia

Rabu, 10 Agustus 2016

Mata Kodok Lagi Magang Nih


Gak kerasa udah hampir satu bulan nih saya menjalani kegiatan magang yang merupakan kegiatan wajib dari fakultas di Sidoarjo. Saya mengambil topik magang yaitu manajemen kualitas sehingga untuk menyesuaikan topik tersebut saya memilih UPT Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura Lebo, Sidoarjo sebagai tempat magang saya. Sebenarnya mau dibilang asyik ya gak asyik juga sih, banyak capek dan sakit hatinya. Tapi karena saya bakalan magang disini tiga bulan, jadi mau gak mau ya dibetah-betahin dan asyik-asyikin aja. Mayan, makan melon golden langkawi tiap minggu.

Jadi menyesuaikan topik magang saya, saya harus mengikuti segala aktivitas bagaimana UPT tersebut untuk mengendalikan kualitasnya. Dari pemilihan bibitnya sampai penanganan pasca panennya. FYI aja sih, melon yang di UPT ini merupakan melon golden langkawi yang merupakan melon impor dengan kandungan kemanisannya sangat tinggi. Jadi makan satu buah melon sendiri bakal bikin kamu mabok atau mungkin diabetes. Karena melonnya melon terbaik, jadi kualitasnya harus bener-bener dijaga, apalagi kalau mau masuk ke supermarket.

Selama satu bulan ini lumayan banyak ilmu yang saya dapatkan seperti penyerbukan melon, pemangkasan, panen, dan pasca panennya.

Next postingan bakal saya ceritain kegiatan-kegiatan saya disini, buat sekarang ini aja ya. Tujuan postingan ini Cuma mau ngasih tau kalau saya lagi magang, jadi biar disemangatin gitu hehehe

Sampai jumpa

Semoga bahagia