Jumat, 26 Februari 2016

Kelas Insipasi Malang 3 : Selalu ada cerita di setiap inspirasi

Coba cari saya yang mana?

Sejak kelas inspirasi 21 September 2015 lalu, grup rombel 55 yaitu rombel dimana saya tergabung didalamnya sudah beberapa kali membahas “Kapan kita kembali ke MI tempat inspirasi kita?” Awalnya banyak sekali rencana dari yang ingin belajar upacara, belajar pelajaran kewarganegaraan, sampai berkemah. Dan pada Sabtu kemarin tepatnya 20 Februari 2016 kami memutuskan untuk mengunjungi sekolah hari inspirasi kami kemarin yaitu MI ZAINUL ULUM GONDANGLEGI, MALANG setelah Mbak Neser sedikit mengompori para relawan dengan kunjungan Mbak Neser ke SD di Gresik sebagai kunjungannya setelah KI Gresik. Banyak sekali hal-hal yang sedikit menghalangi langkah kami untuk mengunjungi MI tersebut, dari mulai rencana yang terbilang mendadak sampai relawan yang tiba-tiba membatalkan keikutsertaannya untuk berkunjung ke MI. Tapi karena kita percaya bahwa niat baik akan dilancarkan oleh Tuhan, akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat dengan segala keminiman, minim persiapan dan relawan.

Selaku fasilitator ada sedikit perasaan was-was di hati saya seperti bagaimana ini acaranya? Lancar gak ya? Duuh, gak meet up sama sekali. Nanti disana ngapain aja ya? Sampai malam menuju hari H hal-hal tersebut berhasil membuat saya susah tidur, barulah jam dua pagi saya sepertinya sukses tidur. Padahal sih harus banget sampai di alun-alun malang jam enam pagi, belum jemput Mbak Neser di terminal jam setengah enam. Karena lagi – lagi percaya bahwa rencana baik akan selalu dilancarkan oleh Tuhan, saya jam empat pagi sudah bangun. Alhamdulillah, saya masih bisa mandi dan bersiap ala kadarnya.

Tepat jam 6.15 WIB kami berangkat ke MI setelah sebelumnya berkumpul di alun-alun dan mampir menjemput Ghea. Hari itu saya membonceng Mbak Neser dan membawa empat pohon mangga yang akan di tanam di Minya. Yang dulu sewaktu Hari Inspirasi saya dengan gayanya bisa naik motor wuus-wuuuus nyalip sana-sini ala ala anak jalanan di RCTI, hari itu saya harus legowo naik motor kalem. Bawa empat pohon dengan motor itu tidak mudah ternyata, semoga kalian mengerti apa yang saya rasakan. Sesampainya di MI kami disambut dengan apel pagi adek-adek seperti hari biasa yaitu pembacaan asmaul husna. Kami memutuskan untuk memulai acara di jam kedua dan membiarkan adek-adeknya belajar di jam pertama. Sembari menunggu adek – adeknya kami ngobrol membahas tentang kegiatan setelah ini. penasaran gak kalian sama kegiatan yang akan kami lakukan bersama adek-adeknya setelah ini? Penasaran ya, biar saya bisa lanjut nulisnya, hehe. Jadi kegiatan yang kami lakukan di sabtu yang ceria itu adalah....

Zumba ala – ala Mas Nicky

Kak, kita terbang looh

Di grup rombel 55 waktu itu Mas Nicky salah satu relawan pengajar usul bahwa beliau ingin menjadi instruktur zumba di acara kunjungan, karena memang relawan yang sedikit dan kegiatan yang belum jelas juga akhirnya para relawan yang lain meng-iya-kan tawaran Mas Neec, dan jadilah di awal kegiatan kami zumba-zumba lucu dengan Mas Neec. Adek – adek MI dan para relawan sukses dibuat berkeringat, lompat sana lompat sini putar sana putar sini. Kami menikmati setiap gerakan yang dicontohkan, bahkan adek-adeknya meminta lagi dan lagi.

Kereta sampah, naik kereta sambil ambil sampahnya

Jangan lupa ambil sampahnya ya...

Nah, setelah sukses dibikin berkeringat dengan zumba ala – ala Mas Neec, kegiatan selanjutnya adalah kereta sampah. Kenapa kami mengambil kegiatan ini? kemarin di grup whatsapp kami sempat berdiskusi kegiatan apa sih yang cocok dilakukan untuk memperingati hari peduli sampah 21 Februari nanti. Nah, kereta sampah ini menurut kami cocok diselipkan di kegiatan kunjungan kami. Jadi, sembari bermain kereta-keretaan kami mengajak adek – adeknya untuk memungut sampah di sepanjang jalan yang dilewati. Harapannya adek-adek peduli akan sampah yang mereka hasilkan dan membudayakan tidak membuang sampah sembarangan. Karena kami percaya mendidik karakter yang paling mudah adalah dilakukan ketika masih kecil.

Yuk, menanam sambil bernostalgia

Kami semangat loh kak, kakak gimana?

Setelah melakukan zumba dan kereta sampah, masuklah kita ke acara inti hari itu yaitu menanam pohon dan menempel foto. Foto yang kami tempel adalah foto-foto kegiatan hari inspirasi Kelas Inspirasi Malang 3 september kemarin. Jadi, adek-adeknya dibagi menjadi dua kelompok , satu kelompok menempelkan foto bersama Ghea dan satu kelompok lainnya menanam pohon pucuk merah dan mangga dihalaman sekolah bersama relawan dan para guru.

Sepatu sama kostum e gak nguwati, hahaha

Ada satu lucu ketika kami menanam. Jadi ketika kami menanam itu saya, Mas Neec, dan Mbak Neser berkesempatan untuk mencangkul tanah yang kemudian dijadikan untuk lubang tanam. Nah, karena memang saya lemah meskipun saya mahasiswi pertanian yang notabene sering kesawah, akhirnya cangkul mencangkul ini diambil alih oleh Mas Neec dan Mbak Neser. Ketika mereka berdua mencangkul mereka sempat menuturkan bahwa mencangkul itu pekerjaan yang tidak mudah dan melelahkan. Dan seketika saya nyeplos, “ Jadi, kalau beli cabe jangan ditawar ya. Susah kan jadi petani “ dan seketika itu juga kata-kata saya dijadikan sebagai quote pengingat betapa beratnya perjuangan para petani. Yah meskipun saya tahu sebenernya mahalnya itu bukan dari petani tapi dari panjangnya rantai pemasaran yang tercipta, hahaha. Setidaknya gini deh, kalau makan itu dihabiskan ya. Kasian petaninya loooh, hehehe

Susah banget buka doubel tipnya kak -__-

Semua kegiatan telah dilalui dan sekarang waktunya kami berpisah dengan adek-adeknya. Sedih ya, ternyata waktu berjalan begitu cepat sampai kami harus berpisah lagi. Ketika berpisah banyak seklai adek-adek yang menanyakan kapan kami bisa kembali mengunjungi mereka. Ketika kami menjawab secepatnya, mereka seperti memegang perkataan kami sebagai janji, aaaah saya terharu sekali seakan kami memiliki satu tempat dihati mereka.

Hayo, yang rapi ya nempelnya adek-adekku...

Selesai beristirahat dan makan, kami memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan travelling kami ke sumber yang ada di sekitar daerah tersebut mengingat jumlah kami yang sedikit dan kondisi tubuh kami yang tidak memungkinkan. Siang itu kami langsung pulang karena awan mendung juga telah menyelimuti langit. Dan ketika kami pergi ke motor kami masing-masing untuk kembali ke rumah, Mas Nicky menemukan sebuah surat kaleng yang isinya seperti gambar di bawah. Aaaaah, lagi-lagi saya terharu sekarang kami menyadari kami memang memiliki satu tempat khusus di hati mereka. Bahkan, adek-adek MI ini menanyakan relawan-relawan yang tidak hadir. Mereka juga membuat video salam untuk teman-teman relawan yang berhalangan hadir serta ucapan semoga cepat sembuh untuk Kak Arai yang kebetulan waktu itu sedang sakit.

Surat kaleng dari Uswatun

Pengalaman kami sabtu tersebut benar-benar membuat saya tersadar bahwa ilmu yang saya sedikit bagikan dan bahkan menurut saya itu gak terlalu penting bagi saya, ternyata itu sangat penting dan berarti untuk orang lain.

Kemudian kami pulang ditemani dengan hujan lebat dan kemudian tiba-tiba terang benderang.
Kaya penutupnya apa banget gitu ya, hehehe


Ini foto diambil oleh adek-adek MI dengan beberapa foto kepalanya terpotong - Ghea said
Nb : foto diambil dari kamera Ghea dan Mas Nicky



Sampai Jumpa

Jangan lupa bahagia 

Jumat, 05 Februari 2016

Lawu 3265 mdpl, Pengalaman pertama yang membuat saya kuat

Dulu, waktu punya pacar haha. Padahal mah, buat anak kelas J haha

Bapak pernah berkata, “Jadi anak perempuan itu gak usah macem – macem. Inget, kamu itu bagaikan dagangan ibu bapak. Anak perempuan bukan seperti laki-laki yang membeli.”.

Kalimat itu yang sampai detik keberangkatan saya ke Lawu yang saya inget. Dilarang, tapi karena penasaran saya tetap memaksa untuk ikut mendaki bersama 5 teman SMA saya. Mungkin memang orang tua saya sayang kepada saya, sehingga melarang saya untuk naik gunung terlebih mengingat kejadian semasa saya SD terjatuh sewaktu maen basket dan kedua tempurung lutut saya geser. Dari kejadian itu saya amat sangat dibatasi, gak boleh maen basket lagi, gak boleh lari – lari jauh, apalagi naik gunung, sudah pasti dilarang. Karena saya sudah merasa terlalu lama diam dan hanya menerima nasib, akhirnya waktu itu saya memohon kepada orang tua saya untuk sekali ini mengizinkan keinginan saya. Dan dengan berat hati, mereka mengizinkan saya dengan jaminan setelah dari sana saya gak boleh ngeluh capek atau bercerita tentang kesusahan saya disana. Oke, saya terima persyaratan dari orang tua saya tersebut.

3 Agustus 2014 adalah waktu yang kami pilih untuk berangkat. Anggota dari pendakian ini adalah Antina, Gita, Bagas, Grendika, Tommy, dan saya. Awalnya tidak ada keraguan sama sekali dari kami untuk mendaki malam itu, tetapi mengetahui kenyataan bahwa salah satu teman saya Antina sedang berhalangan membuat kami berpikir ulang untuk mendaki. Gunung Lawu yang menjadi target kami untuk mendaki adalah salah satu gunung yang terkenal sedikit mistis. Banyak sekali pantangan untuk mendaki gunung tersebut salah satunya adalah kebersihan diri. Menurut orang-orang disana, wanita yang sedang berhalangan adalah wanita yang sedang tidak bersih atau tidak suci sehingga masyarakat sekitar menyarankan untuk tidak melakukan pendakian. Tidak hanya itu saja sih, warna baju juga menjadi pantangan disana. Konon, pendaki yang memakai baju berwarna hijau tidak akan selamat dalam pendakian dan banyak pantangan-pantangan lainnya yang saya lupa, hehe
Tepat pukul 19.30 WIB kami sampai di depan pintu masuk pendakian. Kami bimbang, kami belum memutuskan untuk mendaki ataupun pulang. Dengan kebimbangan tersebut kamipun memutuskan untuk berhenti di suatu warung dan membicarakan masalah tersebut. Sembari menikmati mie rebut dengan telor panas malam itu menjadi malam perundingan paling ruweeet. Susah sekali memutuskan untuk berangkat atau tidak. Berangkat kami benar-benar menantang maut, tidak berangkat kami sudah sampai setengah jalan. Dan dengan segala macam bentuk pertimbangan akhirnya kami berangkat dengan syarat bahwa teman saya Antina tersebut tidak boleh pipis. Karena kami khawatir air pipis doi tidak suci, aaah you know what i mean.

Kami mulai mendaki tepat pukul 22.30 WIB bersama salah satu rombongan yang kami temui di pintu masuk. Rombongan tersebut membawa satu mbak-mbak yang umurnya satu tahun dibawah kami. Perjalanan malam itu berjalan lancar, dijalan kami saling berkenalan, bercerita penggalaman mendaki, sampai membahas masalah sekolah kami masing-masing. Pos demi pos kami lewati dengan lancar sampai pada akhirnya saya merasa tenaga saya tinggal setengah. Yang awalnya saya jalan cepat, kini saya jalan begitu lambat. Karena memang ini adalah pengalaman pendakian pertama saya, saya masih belum pintar untuk memanajemen nafas dan tenaga saya. Beberapa kali saya harus berhenti untuk beristirahat dan beberapa kali pula saya bertanya kepada teman saya, berapa lama lagi kami bisa sampai ke puncak.

Muka kucel, rambut keluar mulu, debu dimana-mana, dan saya capek sekali :(

Sesampainya kami di post ketiga, kami beristirahat dan bermalam. Mbak-mbak yang saya ceritakan tadi dari post dua sudah tidak kuat dan kedinginan sehingga salah satu mas dari rombongan tadi harus memapah bahkan menggendongnya. Sebelum saya melakukan pendakian itu ada salah satu teman saya bilang bahwa naik gunung adalah waktu dimana kita bisa merefleksi dan menginstropeksi diri kita. Kita juga tau bagaimana sifat sejati dari teman-teman kita yang mendaki. Karena ketika kita naik gunung disanalah keegoisan dari orang akan terlihat jelas jadi, kalau kamu pengen tahu sifat asli dari temanmu, ajaklah naik gunung.

Sekitar pukul 04.30 WIB kami melanjutkan perjalanan ke puncak. Yang awalnya kami menginginkan untuk melihat sunrise, karena banyak sekali halangan kamipun mengubah tujuan. Bahwa tujuan sebenarnya naik gunung adalah pulang bukan puncak, dari hal tersebut kami menyadari bahwa dengan segala keterbatasan yang penting kami bisa pulang. Jadi, mulai jalan itu kami benar-benar santai tidak mengejar salah satu seperti puncak ataupun sunrise.

Ah, saya lupa namanya ini :(

Sok-sokan bahagia sih 

Dengan berbagai macam halangan seperti jalan yang semakin mendaki, berbatu, dan nafas saya yang kembang kempis tersebut akhirnya sampai juga kami di warung mbok nem. Lucunya di Lawu ini banyak sekali warung-warung yang buka di puncak. Soal harga gak usah ditanya, masih mahal buat kalian makan di KFC atau McD kok. Sampai sekarang saya masih bingung, gimana caranya orang-orang ini bawa makanannya ke atas sini? Saya saja hampir memerlukan waktu enam jam lebih untuk bisa sampai ditempat tersebut. Selain itu, di lawu juga menyediakan MCK gaees. Sempat saya waktu itu kebelet banget pup dan bener-bener udah diujung dan akhirnya mau gak mau saya harus pup. Jangan dibayangin MCKnya kaya di rumah atau paling gak di toilet terminallah, ini jauh dari itu semua. Hanya ditutupi terpal dan lubangnya itu yang langsung “mak plung” gitu, hahaha. Jijik sih bicara soal ini, tapi lucu aja bisa-bisanya saya kebelet pup disaat situasi seperti itu dan bisa-bisanya keluar, hahaha

Kami tidak melanjutkan untuk berkunjung ke puncak, meskipun jarak puncak dengan warung mbok nem hanya 45 menit. Tapi melihat kondisi kami dan mbak-mbak itu yang sudah sangat tepar tepat pukul 13.00 kami memutuskan untuk kembali pulang. Diperjalanan pulang ini saya sedikit mengeluh sampai salah satu temannya menasehati saya kalau namanya naik gunung itu ya jauh, capek, dan gak ada yang bisa nolong kalau gak kita sendiri yang berusaha. Huuuu, saya jadi malu sendiri dengan teman-teman saya tersebut terlebih lagi saya malu dengan diri saya sendiri. Di perjalanan pulang ini saya juga ditinggal dua teman cewek saya karena saya jalannya pelan-pelan, takut kepleset, hahaha. Beberapa kali papasan dengan orang yang mau mendaki dikiranya saya jalan sendirian, padahal dibelakang saya ada tiga orang teman cowok saya yang membackup saya dari belakang. Yang saya suka dari naik gunung ini adalah ketika kita berpapasan dengan orang pasti kita saling menyapa. Orang-orang yang suka naik gunung ini ramah-ramah, saya suka. Hehe

Trek naik turun, muter, aaaaah

Pengalaman naik gunung pertama ini benar-benar merepotkan teman-teman saya. Selain jalan saya yang lemot, saya juga membuat teman saya nyeker karena sepatunya saya pakai. Sandal gunung yang saya pakai membuat kaki saya lecet-lecet dan menambah pelan kecepatan jalan saya. Dari situlah akhirnya teman saya meminjamkan sepatunya. Tepat pukul 18.00 WIB saya sampai di pintu masuk, Alhamdulillah kami sampai semua dengan selamat meskipun lecet-lecet dan besok kami berenam harus datang ke acara reuni SMA, kucel-kucel deh ini muka ke reunian, haha

Pengalaman pertama saya naik gunung ini benar-benar tidak akan saya lupakan. Di pengalaman saya ini saya banyak belajar arti kesabaran dan saling memahami. Saya juga diajarkan untuk tidak mengeluh dan tolong-menolong dengan orang lain. Terimakasih teman-teman SMA terbaikkuuuuuh, maaf yeee aku ngrepotin kalian. Terimakasih sudah sabar dan menjagaku. Kalian benar-benar memberikanku pengalaman yang tidak ternilai harganya. Sekali lagi terimakasih geng. Pengalam ini bikin aku kuat kok, iya aku kuat rek :p

Edelweis cantik, gak boleh dipetik. Kalo ketahuan disuruh balikin ketempatnya :(

nb : gak banyak ambil foto, gaks empet bawa kamera dan hape mati. Foto ada ditemen sampe sekarang belum ketemu hiks :(



Sampai jumpa
Semoga bahagia