Jumat, 04 Desember 2015

CUKUP AMARYLIS YANG MIRIS, YANG LAIN JANGAN !!!


Siapa yang tidak tergoda dengan ini?

Siapa sih yang belum tau masalah Taman Bunga Amarylis di Gunungkidul Yogyakarta?
Sepertinya semua anak hits instagram sampe facebookpun sudah mengetahui masalah ini.
Iya, berawal dari foto di akun jalan-jalan  di instagram membuat sebuah tempat yang sebenarnya memang bukan ditujukan sebagai tempat wisata tiba-tiba ramai karena keindahan hamparan bunga amarylisnya.

Bunga Amarylis yang menarik ketika mekar karena warna-warni kelopaknya sebenarnya memiliki nama latin Hippeastrum, Amarylis sebenarnya merupakan nama genusnya. Hippeastrum memiliki cukup banyak spesies seperti H.papilo, H.reticulatum, dan jenis-jenis lainnya dengan warna kelopak berwarna-warni seperti merah, putih, orange, maupun krem. Pada beberapa tahun terakhir bunga yang juga banyak disebut bawang-bawangan karena memiliki ruas-ruas pada bonggolnya dan munculnya tunas dari ruas – ruas bonggol tersebut.

Dan sebenarnya bunga ini dapat mekar dua kali dalam setahun pada bulan September hingga Maret, bukan seperti caption di salah satu foto di instagram yang menjelaskan bahwa bunga tersebut hanya mekar satu kali dalam setahun dan hanya bertahan mekar selama tiga minggu. Dari caption itulah yang menurut saya membuat banyak orang tumpah ruah di hari Jumat, 27 November 2015 setelah beberapa hari satu foto di upload di instagram. Iya, orang – orang tersebut tidak mau ketinggalan kesempatan untuk berfoto dengan bunga cantik tersebut yang akhirnya secara sengaja atau tidak sengaja orang yang berkunjung menginjak bunga amarylis yang cantik itu.

Captionnya kan ngundang banget kita kesana

Bapak Sukadi sang empunya kebun telah membudidayakan bunga tersebut sejak tahun 2006 dan lambat laun seiring berjalannya waktu bunga tersebut berhasil menutup tegalan di depan rumahnya. Sebenarnya tidak ada niatan beliau untuk menjadikan tegalan bunganya sebagai tempat wisata. Sehingga beliau tidak menyiapkan suatu jalan untuk berfoto atau selfie yang akhirnya ketika banyak orang berkunjung ke kebunnya bunga cantik tersebut terinjak dan terkoyak.

Bapak Sukadi berlapang dada ketika melihat kebun bunganya rusak oleh datangnya orang – orang yang berkunjung, beliau menyadari masih banyak kekurangan di kebun bunganya. Namun kesadaran untuk merwat kebun bunga masih tidak disadari oleh para pengunjungnya. Ada beberapa foto yang saya temukan di facebook atapun path yang masih berpikir kalau tanggung jawab merawat taman adalah tugas dari sang empunya taman saja. Hmm, sangat disayangkan.




Sebenarnya kisah serupa juga terjadi di kebun bunga matahari di Batu. Karena beberapa foto cantik di instagram membuat kebun tersebut juga ramai dikunjungi oleh orang-orang yang mungkin hanya sekedar penasaraan atau memang ingin berfoto disana. Namun yang sangat disayangkan kejadian seperti kebun bunga amarylispun terjadi, banyak pohon –pohon bunga matahari yang masih kecil tidak sengaja terinjak oleh para pengunjung, sehingga banyak pohon matahari yang gagal tumbuh.
Miris memang melihat hal – hal semacam itu. Karena kebutuhan foto terkadang mereka melakukan apapun. Memang saya akui terkadang kalau ingin foto bagus satu dua jepretan kurang bahkan gaya gaya dan angel – angel normalpun juga kurang. Dan akibatnya hal – hal yang sebenarnya bisa merusak lingkungan mereka lakukan meskipun secara tidak sengaja, duh duh duuh..



Ini sewaktu saya mampir di kebun bunga matahari batu. Sudah mulai layu u,u

Karena kebetulan pada semester ini saya mempelajari mata kuliah Arsitekstur Pertamanan jadi saya mau berbagi sedikit mengenai pengrusakan taman. Dalam bahasa arsitekstur pertamanan terdapat suatu istilah yaitu vandalisme untuk semua kegiatan yang dikatakan merusak lingkungan, baik sekedar mencoret – coret hardscape taman (kursi, meja, dll ) atau bahkan merusak dari softscape (bunga, pohon, dll) taman tersebut. Nah, menurut saya kejadian – kejadian vandalisme tidak hanya terjadi di kedua kebun bunga itu saja. Banyak sekarang taman yang sudah ditata dan dibangun dengan konsep sedemikian indahnya dirusak dengan tangan tangan jail para pengunjungnya. Contohnya saja di alun – alun Ngawi tempat saya besar. Ketika saya SMA kelas dua, satu bagian di alun – alun ngawi bagian taman bermain diperbaiki dan diberi lampion – lampion berbentuk hewan dan bunga. Namun baru satu tahun saja lampion – lampion tersebut sudah rusak.

Nah, berbicara lagi mengenai tempat wisata, kerusakan, dan kesadaran, ada sebuah buku yang berjudul “Tourism Marketing 3.0” karya dari Om Hermawan Kartajaya dan Sapta Nirwandar. Dalam buku tersebut selain dijelaskan mengenai bagaimana cara mengaet turis agar mau datang berwisata juga dijelaskan tiga tahapan kesadaran seorang turis. Melihat kembali masalah vandalisme khususnya pada taman bunga tersebut, sesuai dengan bukunya Om Hermawan dan Sapta, para pengunjung objek wisata di Indonesia khususnya orang Indonesia itu sendiri masih dikategorikan dalam level 0.1 yaitu level dimana para wisatawan hanya sekedar berkunjung, berselfie, berhahahihi, dan kurang kesadaran terhadap kelestarian lngkungan. Info mengenai tahapan ini bisa langsung dilihat di SINI

Kemudian saya berpikir sejenak, kenapa sekarang arti dari sebuah kata “berwisata” “piknik” maupun “Travelling” menjadi benar – benar berbeda hampir 180 derajat dari beberapa tahun lalu? Dulu, sewaktu belum ada smartphone dan dunia maya sepertinya arti dari berwisata adalah menghilangkan penat dari segala aktivitas keseharian  dengan menikmati keindahan alam, mengapa sekarang arti dan makna dari berwisata adalah LIKE YANG BANYAK?

Semoga kedepannya manusia benar – benar telah menyadari bawasannya kita tidak diciptakan untuk menguasai alam, kita hanya ditugaskan sebagai pemimpin yang harus menjaga alam ini dan kita hidup berdampingan dengan alam.




Semoga bahagia ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar