Kamis, 17 Juli 2014

GAGAL, Why not?




Terkadang orang merasakan hancur sehancur-hancurnya ketika orang tersebut gagal. Merasa paling rendah ketika dirinya gagal. Bahkan ada yang merasa hina ketika mereka gagal. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk tidak gagal dalam hal – hal yang mereka ingin capai, tuju, dan impikan. Siapa sih orang yang mau GAGAL didunia ini? Tak ada seorangpun yang ingin gagal, tetapi apa boleh dikata keGAGALan itu tidak dapat kita hindari atau bahkan kita tolak kedatangannya, karena sesungguhnya keGAGALn itu adalah pelengkap dari keSUKSESan. Ada juga pepatah yang mengatakan bahwa keGAGALan adalah awal dari keSUKSESan.

Memang terdengar sangat klasik ketika kita mengatakan “ keGAGALan adalah awal dari keSUKSESan”, atau bahkan sebagian orang sudah tidak percaya lagi dengan pepatah tersebut. Mungkin orang – orang tersebut adalah golongan orang – orang yang sudah mencoba berkali – kali lalu gagal dan gagal lagi tanpa di akhiri kesuksesan, mungkin. Sebenernya jika kalian percaya, memang keGAGlan itu adalah awal dari keSuksesan. Jika kalian sudah mencoba, mencoba, mencoba dan tetap saja gagal, coba koreksi kembali apakah jalan yang kalian ambil sudah benar atau bahkan ada suatu kesalahan disana. Karena saya sendiri sudah membuktikan kalau memang “ keGAGALan itu adalah awal dari kesuksesan”, mau bukti? Ini saya ada sedikit cerita.

Sebuah pengalaman pribadi dari diri saya mengenai perjuangan saya masuk kuliah. Tolong dicamkan ini bukan bermaksud sombong ya, Cuma berbagi pengalaman saja. Saya adalah anak dari keluarga sederhana di kota sederhana pula. Ayah saya hanya seorang PNS biasa dan ibu saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hobiny masak. Kedua orang tua saya ingin sekali melihat anak – anaknya sukses, maka dari itu orang tua saya menginginkan sekali saya kuliah dan kuliah di universitas negri. Kenapa universitas negri? Karena biaya kuliah di universitas negri tidak terlalu mahal. Mungkin kalau jarak saya dan adik saya lumayan jauh kuliah di universitas swasta tidak jadi suatu masalah, tetapi karena jarak saya dan adik saya yang hanya setahun, maka mau tidak mau saya harus bisa masuk universitas negri agar biaya kuliahnya tidak terlalu mahal. Dari SD sampai SMA saya dikenal sebagai murid yang yaa bisa dibilang pintar, yah meskipun gak pintar – pintar sekali, SMP dulu sih peringkat 3 pararel UAN + UAS, hehehe. Di SMApun saya selalu peringkat 1 di kelas dari kelas 1 sampai kelas 3 SMA dan selalu masuk 10 besar di sekolah. Tetapi ternyata dengan itu saja tidak cukup mendukung saya untuk dengan mudah lolos SNMPTN masuk universitas negri. Iya, saya SNMPTN gagal lolos. Mungkin saya kurang beruntung atau mungkin saja saya terlalu mengambil jurusan dan universitas yang terlalu tinggi. Padahal teman – temn saya yang *maaf* berada jauh dibawah saya bisa dengan mudahnya lolos SNMPTN dengan jurusan yang mereka sukai. Awalnya saya berpikir ini sangat tidak adil, kenapa perjuangan saya selama ini hanya terbayarkan dengan kata – kata “ MAAF” di pengumuman SNMPTN. Apakah Tuhan tidak sayang dengan saya? Ataukah saya memang belum pantas mendapat rizki itu?


Menyerah? Tidak ada kata menyerah di kamus saya ketika saya mengingat betapa besarnya perjuangan orang tua saya membiayai saya sekolah dari SD sampai SMA. Apakah hanya rangking – rangking itu saja yang biasa saya berikan kepada orang tua saya? Apakah “masuk PTN” tidak bisa saya berikan sebagai hadiah kepada kedua orang tua saya? Apakah dengan menyerah saya membayar perjuangan besar mereka? Dalam hati saya selalu meyakinkan diri saya “ SAYA BISA MENJADI ANAK KEBANGGAAN KEDUA ORANG TUA SAYA. KETIKA SAYA DIKENALKAN DENGAN TEMAN – TEMAN ORANG TUA SAYA, SAYA TIDAK MEMALUKAN MEREKA. SAYA AKAN BERUSAHA UNTUK SELALU MENJADI KEBANGGAAN MEREKA. SAYA BISA”. Untungnya teman – teman saya adalah teman – teman terbaik, ketika mereka tau saya gagal, mereka selalu menyemangati saya dan meminjamkan buku – buku bimbel mereka kepada saya. Saya dulu memang gak ikut bimbel karena menurut saya bimbel itu mahal dan ketika saya udah berada di posisi seperti itu dengan saya bimbel akan malah memperkeruh rumus yang ada di otak saya dan bimbelnya akan sia – sia otomatis uang orang tua saya akan terbuang begitu saja. Jadi saya putuskan untuk belajar sendiri di rumah dengan bantuan buku – buku dari teman – teman saya itu. 

Rasa malas itu selalu ada ketika setiap pagi harus memandang tumpukan buku – buku tebal dengan ribuan soal didalamnya yang siap menghadang jalan saya bersantai. Hatipun sebenarnya juga belum mau diajak belajar. Jadi hal yang saya lakukan pertama kali adalah menenangkan diri saya dan mengikhlaskan keGAGALan saya. karena ketika hati kita tidak tenang, belajar setekun apapun akan sama saja, tidak masuk otak. Jadi waktu itu saya belajar SBMPTN hanya seminggu sebelum ujian dan tanpa Try Out. Dan asalkan kalian tau saja perjuangan saya tes SBMPTN itu juga banyak, dari yang daftar SBMPTN dua kali, sakit pas tes SBMPTN, dapet tempat duduk belakang dan dosen yang jaga ngobrol sendiri, duh banyak lah pokoknya. Tapi karena saya ikhlas ngejalaninnya jadi apapun hasilnya saya tidak terlalu pusing memikirkannya.

Waktu itu saya tidak hanya mengandalkan tes SBMPTN saja, karena saya udah pesimis dengan hasil tes saya itu. Bayangkan saja, matematika hanya diisi satu dan baahsa inggri diisi 5 menit sebelum jamnya habis. Lalu, saya ikut tes masuk Poltekes. Soalnya sih mudah, saya lancar ngerjainnya dan ngerasa pede dengan hasil tes tersebut, tapi ketika pengumuman saya GAGAL masuk poltekes gais. Mudah, optimis, tetapi masih GAGAL? Mungkin bukan jalan saya di poltekes. Lanjut setelah tes di poltekes saya tes di UGM jalur beasiswa apa gitu*sayalupa*. Soal tes di UGM ini gak ada sains atau pengetahuan gitu, disini hanya tes kemampuan akademik dan itu super gampang to the banget, yah setelah pengumuman ternyata saya GAGAL lagi. Ah, hampir saya menyerah dan muak dengan semua ini, kenapa saya gagal teruuuus? Kapan saya berhasilnya? Kapan ada kabar baik untuk orang tua saya? kapan? Dan ternyata kabar baik itu hadir ketika pengumuman SBMPTN dan kata – kata “Maaf” itu tidak lagi hadir dan digantikan dengan kata “ SELAMAT” . Tetapi apa yang saya inginkan ternyata tidak dikabulkan oleh Tuhan meskipun saya lolos SBMPTN, saya lolosnya SBMPTN di pilihan kedua yaitu Agribisnis tidak dipilihan pertama saya GIZI.

cie anak agribisnis Ub :p

Semua yang diberikan Tuhan memang telah saya syukuri meskipun saya hanya diberi Tuhan Lolos sebagai mahasiswa Agribisnis di Universitas Brawijaya. Tetapi setelah saya jalani dan saya tengok kebelakang ternyata Tuhan telah merencanakan hal paling baik untuk saya dan kegagalan itu adalah tanda Tuhan tidak mau saya berada dijurusan yang mungkin saya “tidak mampu” untuk menjalaninya karena kalau kalian tau dari awal SNMPTN saya memilih IPB GIZI, poltekes D4 GIZI, UGM GIZI, SBMPTN pilihan pertama GIZI, dan semuanya GAGAL dan saya memang ditakdirkan untuk menjadi mahasiswa Agribisnis. Ternyata ketika saya menjadi mahasiswa agribisnis saya menikmati kuliahnya, enjoy di segala aktivitas organisasi, sempat menjadi mahasiswa berprestasi, dan saya juga sudah mendapat beasiswa, dan yang paling saya syukuri ternyata saya termasuk orang yang diperhitungkan di fakultas maupun universitas. Di kepanitiaan saya sudah beberapa kali diberi amanah menjadi coordinator kepanitiaan dan di Universitas saya juga di beri amanah menjadi ketua redaksi majah BEM Pusat di Ub. Nilai sayapun juga tidak terlalu jelek, disemester pertama IP saya 3,9 dan semester ini *meskipunsedikiturunkarenadosennyadarifakultaslain* IP saya masih 3,7. Andai saja saya tidak di Agribisnis dan tidak di UB, apakah saya bisa seperti ini? Apakah saya bisa menjadi salah satu orang yang diperhitungkan keberadaannya? Apakah saya bisa mengenal teman – teman yang super keren sama seperti sekarang? Mungkin, apakah – apakah itu tidak akan terjawab, karena saya sudah ada di sini sebagai MAHASISWA AGRIBISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA, dan saya mensyukuri itu.

Ini majalah saya bisa diakses disini : em.ub.ac.id/upmagazine

Kisah saya belum seberapa dibandingkan dengan kisah kak Fatih. Saya memang tidak terlalu mengenal beliau tapi dari cerita – cerita yang saya dapatkan, pengalaman kegagalannya itu lebih lebih lebih dibanding saya. kalau saya hanya ditolak universitas, kak Fatih ini bahkan tidak lulus ujian nasional 2010. Bayangkan saja, ujian nasonalpun beliau tidak lulus, siapa yang tidak langsung menyerah kalau UAN saja tidak lulus? Beliau juga gagal 2 kali tes di IT Telkom, padahal dari pengalaman teman – teman saya lumayan mudah masuk di IT Telkom. Dan beliau juga gagal USM STAN. Tetapi kalau kalian lihat beliau sekarang pasti kalian tidak akan percaya. Beliau sekarang  adalah MAWAPRES 1 Fakultas Hukum 2014 dan sekarang sedang diberi amanah sebagai mentri Advokesma EM UB 2014. Gimana? Nikmat mana lagi yang masih ku sia-siakan?

Mau cerita lagi? Tetangga saya sendiri bernama Ikka dia adalah gadis yang pintar, cerdas bahkan. Ayahnya guru matematika di SMAN 1 Ngawi yang merupakan salah satu SMA favorit di Ngawi dan Ayahnya tahun 2013 kalau gak 2012 kemarin menang sebagai guru berprestasi seIndonesia. Tetapi tidak tau kenapa dia juga gagal masuk di Universitas negri. Dari STIS, SNMPTN, SBMPTN, mandiri Undip, mandiri UGM, dia gagal, iya dia gagal. Saya juga tidak tahu kenapa, dia pintar, dia juga bimbel, tapi dia masih saja gagal. Tetapi dia tidak putus asa gitu aja, dia selalu mencoba dan mencoba dan akhirnya takdir membawa dia lolos sebagai mahasiswa di STAN. Benar-benar indah . 

Dia ikka ( sumber : facebook ikka virgestra )

Cerita lain datang dari teman saya SMP dan SMA yang dulu juga mantan  saya, hahaha. Dia anak dari orang yang pas – pasan, dia pintar, dia juga atlet catur. Dia juga gagal masuk universitas negri. Dia bahkan sudah biasa melihat kata – kata “maaf” setiap membuka pengumuman hasil tes. Tapi dia tidak menyerah begitu aja dengan takdir yang tidak bagus tersebut. Dengan ilmu yang ia dapat selama 12 tahun sekolah dan berbekal belajar dari buku – buku tes CPNS, ia memberanikan diri mengikuti tes CPNS. Dan ternyata Allah memang merencanakan ia untuk bekerja, ia lolos tes CPNS dan sekarang ia ditempatkan di kementerian Hukum dan HAM RI. Subhanallah :)

Cari aja sendiri mana teman saya itu, hehehe ( sumber : facebook irsyad taufan )

Mungkin keGAGALan itu adalah salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan jalan yang sebenarnya harus kita lalui. Seperti apa yang saya tulis di awal,jika kita mencoba suatu hal dan itu gagal berulang kali, mungkin terjadi kesalahan pada jalan yang kalian ambil, coba koreksi lagi dan jangan sekali – kali memaksakan kehendak kalian. Karena kalau Tuhan tidak meridhoi, segala macam jalan yang kalian gunakan untuk mencapai tujuan tersebut akan terjadi hambatan dan kalian akan GAGAL lagi. Cobalah menekan ego kita, berusaha mendengar nasehat orang lain dan menjalani apa saja yang telah Tuhan takdirkan ke kita, niscahya jalan hidup kita akan lebih indah.

Untuk adek – adekku yang gagal SBMPTN jangan bersedih ya. Ada berbagai macam alasan mengapa kalian gagal. Mungkin saja usahamu kurang dbandingkan dengan teman – temanmu yang lain. Yes, Hardwork will never bettay you. Kegagalan sekarang bukan berarti semuanya berakhir. The race is still going on guys. “ slow and steady wins the race… until truth and talent claim the place” BJ Novak. Yes, maybe you lost the first race but another race coming up. Your hardwork will lead you to the throne. Sebenernya kuliah gak juga harus di Universitas negri kok, masih banyak universitas swasta yang sejajar bahkan lebih bagus dari universitas negri, mungkin yang membedakan disini hanya biayanya, tapi kalau kalian kuliahnya sungguh – sungguh beasiswa akan mudah di dapat kok, tenang aja. Masalah kerja? Gak ada perusahaan yang membeda-bedakan dari universitas mana kalian berasal, semua akan kembali pada hard and softskill kalian.


Oh iya, untuk teman – teman saya yang lagi galau gara – gara IPnya pada turun *padahalsayajuga* janganlah kalian bersedih gais. Ip juga bukan dari segalanya kok. Inget kata – kata pak Wid DIT? Ip hanya kunci kalian akan masuk ruang wawancara yang mana, hasilnya? It’s come back to ourselves and our test again. Tetaplah bersyukur kita masih bisa kuliah dibandingan teman – teman diluar sana yang pengen kuliah tapi gak bisa. Inget, koreksi, perbaiki, dan jangan diulangi lagi. So, keep smile gaaais, lets take a selfie again. Hehehe

Semangaaat jeee :*

Postingan ini ternyata banyak sekali yang membaca. Saya akan sedikit mengupdate cerita tentang saya selama 4 semester di Universitas Brawijaya. selain hal - hal yang saya dapatkan diatas, ternyata Tuhan memang sangat sayang kepada saya. Di semester tiga kemarin saya sempat di amanah i menjadi seorang asisten praktikum salah satu mata kuliah di jurusan saya dan Alhamdulillahnya dari sana saya juga mendapat rupiah hasil kerja saya sendiri. selain itu di semester empat ini saya juga di amanahi menjadi dua asisten praktikum dan yang masih belum saya percayai lagi adalah saya dipilih menjadi seorang Pengurus Harian di BEM Fakultas Pertanian. Alhamdulillah saya di amanahi sebagai dirjen Komunikasi Publik. Memang awalnya saya merasa kurang pantas, tapi saya yakin dengan tetap mengemban amanah tersebut dengan baik, insha allah saya dapat menjalaninya.

Pengurus Harian Kementrian Komunikasi dan Informasi BEM FP UB 2015, Kesayangaaan banget :p

Tidak pernah menyangka saya akan seperti sekarang ini, berkumpul dengan orang - orang hebat serta menjadi suatu contoh bagi teman - teman lainnya. Akademik saya juga Alhamdulillah masih dibatas kewajaran, masih bisa masuk kelas A, kelas dengan orang - orang dengan IPK diatas rata - rata. Dan masih juga diberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa lagi. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah selalu saya ucapkan jika mengingat perjuangan saya dua tahun yang lalu dan sedikit keberhasilan saya sekarang. Puas? Tentu saja tidak, masih ada banyak langit di atas yang harus saya jajari. Intinya tidak ada suatu penyesalan yang berarti dari kegagalan saya dulu dengan kesuksesan saya sekarang. Yang terpenting jika kamu GAGAL pada suatu hal, jangan stuck dan terlalu meratapi kegagalanmu tersebut. Mungkin kamu di bidang itu GAGAL, coba buka mata hati dan pikiran kamu untuk mencoba hal lain, siapa tau kamu sukses di sana.

Gaji Pertama, gak seberapa sih hasilnya tapi perjuangannya :D

Intinya dulu ketika saya tidak diterima di universitas dan jurusan yang saya inginkan, saya harus bisa SUKSES dengan memilih cara lain. Ya ini cara saya, mengikuti organisasi kampus, belajar tekun IPK memuaskan dan dapat beasiswa, serta dapat menghasilkan rupiah dari kerja saya sendiri. Apakah kamu punya CARA LAIN dalam mencapai KESUKSESANmu?

Teman - teman kelas A, yang memang pintar dan luar biasa cerdasnya :D

Woooaaa, saya cerita ternyata udah panjang kali lebar kali tinggi ajah ya. capek nih gais, segitu aja yah. 

Dan, Hey kamu!  Iya kamu yang masih sedih akan kegagalanmu dan kamu kamu yang takut akan kegagalan. Duh, KAMPUNGAN !!!


Salam SUKSES dari mata kodok, mumumu :***

nb : maaf buat mas fatih, ikka, sama topan kisah hidupnya saya jadikan cerita :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar