Kamis, 20 April 2017

Menyambut Hari Kartini Dengan Film Kartini


Selamat Hari Kartini untuk Ibu Kartini yang sudah tenang di sisi-Nya.
Selamat Hari Kartini untuk wanita pejuang emansipasi dimanapun kalian berada.
Selamat Hari Kartini untuk seluruh wanita di Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, komunitas yang saya ikuti yaitu Earth Hour Malang diundang oleh Komunitas Penggerak Pecinta Film Indonesia (KPPFI) untuk sama-sama menonton film Kartini yang disutradarai Hanung Bramantyo. Tanpa fikir panjang, karena lagi bosen skripsian dan juga penasaran sama filmnya, akhirnya saya memutuskan untuk menonton.


Yuhuu, nobaaar :)

Film yang dibintangi oleh Dian Sastro dapat dikatakan adalah film biografi karena menceritakan kehidupan RA Kartini dari anak-anak hingga menjadi dewasa dan akhirnya menikah.

Pada film ini, ada beberapa scene yang membuat kita tau sisi lain dari kehidupan Kartini yang berbeda dengan buku sejarah sekolah kita. Akhirnya wawasan saya mengenai seorang Kartini bertambah luas. Saya jadi tau alasan mengapa Kartini memperjuangkan emansipasi wanita dan peran keluarganya dalam mendukung cita-cita Kartini tersebut. Selain itu, saya akhirnya juga tau asal usul dari seorang Kartini selain ia adalah puteri dari Bupati Jepara. Kamu harus fokus di menit terakhir ketika Ibu Kartini cerita pengalaman hidupnya mengenai Bupati Jepara, itu cerita yang paling saya gak tau selama saya belajar sejarah. Ini entah saya yang gak pernah baca buku sejarah, tidur dipelajaran sejarah, atau memang di pelajaran sejarah tidak pernah diceritakan.

Selain itu, wawasan saya mengenai budaya Jawa zaman dahulu juga bertambah. Mengapa seorang gadis harus dipingit, kapan seorang gadis dipingit dan pembebasannya, dan aturan-aturan lain dalam budaya Jawa zaman dahulu.

Alur pada film ini juga ringan sih, jadi enak aja gitu buat ngikutinnya. Gak harus mikir berat-berat, sehingga cocok banget di tonton ketika kita butuh hiburan dan juga cocok ditonton oleh semua umur. Settingnya juga keren, bener-bener memperlihatkan suasana Jepara pada zaman dulu. Gambar untuk film overalljuga bagus, tajam gitu jadi warnanya jelas. Tapi ketika scene di Belanda itu kaya keliatan gak nyata gitu sih dan scene di sawahnya juga ada yang kaya editan gitu.

Kardinah, Kartini, Roekmini (Gambar dapat di sini )

Hal yang saya sesalkan dalam film ini adalah beberapa dialog para pemain yang seakan dibuat-buat agar bener-bener “njowoni” jatuhnya jadi jawa campuran Indonesia gitu. Karena saya orang Jawa asli dan kebetulan saya tau bahasa Krama Inggil dan bahasa jawa jogjaan jadi rada geli dan aneh ketika para tokoh ngomong. Ya emang harap dimaklumi sih soalnya ada beberapa tokoh yang memang bukan orang Jawa.

Dan yang paling membuat saya kecewa adalah endingnya. Duh, sumpah kurang gereget. Saya pikir ya kaya di buku sejarah gitu ceritanya sampai Kartini meninggal dan bagaimana bukunya itu “Habis Gelap Terbitlah Terang” bisa ada. Tapi ini cerita selesai sampai Kartini nikah aja. Kaya kurang gitu loh, huuuf

Tapi saya tetep salut oleh film-film seperti ini, selain mengingatkan kita pada sejarah juga membuat kita semakin cinta dengan film Indonesia.

Maaf ya, kalo reviewnya spoiler dan gak pinter review soalnya saya ya kurang begitu paham mengenai cinematrografi. Jadi riviewnya apa yang saya rasakan aja dan saya bandingkan dengan film-film serupa. Review ini juga terlepas dari kasusnya Dian Sastro yang lagi anget-anget itu ya, pure ini berdasarkan apa yang saya rasakan.

Kalo ditanya “jadi kamu rekomenin filmnya gak shya?”
Yah, kalo mau nambah wawasan singkat dan cari sesuatu buat hiburan bolehlah ditonton filmnya.

Sampai Jumpa
Semoga Bahagia

Selasa, 11 April 2017

Dari Wagir Hingga Riverside



Haloo, saya kembali lagi setelah sebulan tidak menjamah blog ini dengan sebuah cerita saya di hari Minggu kemarin.

Jadi Minggu, 9 April 2017 kemarin saya dan teman-teman kabinet dari EHM rapat. Rapatnya rada beda dari biasanya. Yah biasanya kami rapat di cafe atau di taman tapi hari itu kami memutuskan untuk rapat di salah satu rumah teman kami yaitu Aldike.

Kami bersepuluh dengan anggota Mbak Ilma, Tiara, Salsa, Amanda, Ogix, Frido, Fikri, Mas Dimbo dan Saya berangkat ke rumah Dike sekitar pukul 9 yang sebelum itu ada drama nunggu Frido (like as usual doi selalu telat) di pom bensin jam set 7 janjiannya tapi baru berangkat jam set 8. Kami gak langsung kerumah Dike, tapi kami Salsa dulu soalnya cuma Salsa yang tau rumahnya Dike. Setelah sampai dirumahnyas Si Salsa kami gak langsung cuss ke rumah Dike karena kami sarapan dulu. Biasalah awalnya enggak, enggak, eh giliran satu orang ambil sarapan yang lainnya ngikut ya udah deh pada sarapan semuanya. Setelah sarapan itulah kami baru berangkat yang bener-bener berangkat.

Sekitar 30 menit kami sudah sampai di rumahnya Dike. Deket ternyata, gak kaya yang dibilang anak-anak kalo rumah Dike yang tepatnya ada di Wagir itu jauh. Sampai di rumah Dike kami ditawarin sarapan, karena kami sudah sarapan akhirnya kami menolaknya dan mengusulkan untuk di jadikan makan siang saja.

Rapat dimulai, banyak pembahasan kali itu. Tapi karena banyak guyonnya jadi gak kerasa sudah Dhuhur dan rapat diakhiri. Setelah makan siang dan sholat kami meneruskan agenda untuk #explorewagir. Sayang sekali, Frido dan Ogix ada urusan jadinya gak ikut agenda selanjutnya. Awalnya kami mau ke salah satu coban yang ada di Wagir namanya Coban Glotak tapi karena waktu yang sudah siang dan jauhnya perjalanan ke coban itu akhirnya kami memutuskan untuk ke Sumber Sira yang ada di GondangLegi.

sumber sira pas sepi (dapet di sini )

Oh iya, sebelum itu sebenernya saya sudah pernah ke Sumber Sira sewaktu Kelas Inspirasi (ada disini kalo mau baca). Bedanya perjalanan saya ke Sumber Sira kali ini dengan sebelumnya selain beda orang juga beda rute. Rute kali ini kami bisa membawa motor masuk sampai parkiran beda dengan rute kemarin yang harus tracking melewati sawah. Sayangnya jalannya masih makadam gitu, jadi kalau hujan ya becek dan sedikit sulit. Sumber Siranya sih masih sama, Cuma sekarang lebih ramai pengunjung, ramai warung yang menjual makanan ringan hingga berat, bahkan ada juga yang berjualan celana buat ganti. Oh iya, untuk tiket masuk ke Sumber Sira satu orangnya dikenakan tarif 3000 dan 2000 untuk parkirannya.

Fikri dan mas dimbo slulup wkwk

Minggu itu saya tida senekat pertama kali saya ke Sumber Sira, iya kali ini saya gak tergoda untuk nyemplung. Alasannya karena sudah pernah, gak bawa ganti juga, males rempong, dan juga ramai. Tapi dua teman saya Fikri dan Mas Dimbo tergoda untuk nyemplung. Saking semangatnya mereka sampai-sampai celana Fikri robek. Mana robeknya gak kira-kira lagi, masa iya robek dari depan sampai belakang.

ini under waternya ( dapet di sini )

Setelah lelah, akhirnya kami sepakat untuk pulang. Eh, tunggu dulu. Cerita tidak berakhir sampai disinii. Jadi sebenernya kami itu ada bertigabelas, nah si Fuad berhalangan hadir ada urusan. Si Ojan karena masih kuliah doi ada praktikum dan Si Aldo gak bisa dateng karena operasi mata ikan. Jadi setelah kami dari Sumber Sira kami setuju untuk menjenguk Aldo di Riverside. Kalo orang Malang pasti tau dari Wagir ke Riverside itu jauhnya kaya apa, yah buat gambaran sih bisa dikatakan dari ujung ke ujung. Namanya juga sayang, sejauh apapun pasti dijengukin sama kami hahaha.

Dirumah Aldo kami dibuat ketawa karena cerita Mamanya si Aldo kalo si Aldo ini 3 dari 100 pasien dokter itu yang di operasi nangis dan teriak-teriak heboh. Bayangin aja deh, Si Aldo ini mahasiswa akhir atlet renang pula udah umurnya gede badannya juga tapi nangis di operasi. Ya mungkin memang sakit sih, tapi kaya lucu aja gitu kalo inget kelakuannya tapi dioperasi mata ikan nangis. Mana doi di godain mulu sama adeknya, haha

Pelajaran yang bisa saya ambil dari sakitnya Aldo adalah “Kalo kemana-mana jangan lupa pake sandal”. Gitu kali ya do ya?

Selesai cerita saya di Minggu ceria. Meskipun gak ikut naik delman istimewa dan duduk dimuka sama ayah di kota karena ayah saya di Ngawi. Saya bahagia banget bisa berkunjung kerumah teman-teman saya. Rasanya home sicknya sedikit terobati.

Sampai Jumpa

Semoga Bahagia

Sabtu, 04 Maret 2017

40 km/jam : Prolog



Malang sore itu terasa syahdu, ketika Rere memutuskan untuk menghabiskan sorenya di kedai langgannya dulu di pojokkan Jalan Patimura. Sudah lama Rere tidak berkunjung ke kedai kopi itu. Sekarang atau empat tahun lalu, kedai kopi itu terasa masih sama tak ada yang berubah. Hot chocolate dan Green tea lattenya masih seenak dulu. Suasana tenang yang kedai itu ciptakan juga masih sama dengan empat tahun lalu. Bahkan, senja di kedai itupun masih sama dengan empat tahun lalu.

Sesuatu yang membuatnya terasa berbeda adalah dulu, empat tahun lalu, ada seseorang yang selalu menemani Rere untuk sekedar mengobrol dan menghabiskan senja di kedai tersebut. Rere sendiri tak tau kemana perginya dia yang selalu menemaninya pergi ke kedai kopi itu. Sudah hampir empat tahun dia menghilang. Rere tak mengetahui dimana keberadaannya terlebih lagi kabarnya. Dia seakan menghilang bersama dengan kenangan masa lalu Rere.

 “line”

Bunyi dari telfon gengam Rere membuyarkan lamunannya.

Dari : Mutee
Untuk : Rere 02
Pesan :
Re, lo udah di Legipait?
Bentar ya, gue nungguin Abi nih katanya masih jemput adiknya sekolah.

Mutee mutee, gadis ini ya cerewetnya masih sama seperti dulu. Jadi kangen.
Gumam Rere dalam hati.

Secepat kilat, Rere membalas pesan dari sahabatnya dan memberitahu Mutee bahwa ia sudah menunggunya di tempat dimana mereka membuat janji.

***

30 menit kemudian Mutee datang bersama dengan Abi.

Di kedai kopi favorit Rere inilah akhirnya ketiga sahabat yang sempat terpisah selama empat tahun berkumpul kembali. Mutee dengan wajahnya yang riang dan senyumnya yang masih semanis dulu duduk di depan Rere sedangkan Abi duduk di samping Mutee.

Tanpa dikomando, setelah duduk Mutee langsung memberondongi Rere dengan berbagai macam pertanyaan.

“Re, kemana aja sih lo empat tahun ini? Anjir ngilang kaya ditelan bumi. Terus dimana Rendy sekarang re? Lo masih sama dia re? Gue sahabat lo tapi gue bener-bener gak tau kabar lo empat tahun ini.”

“Tek, satu-satu dong Rere bingung tuh jawabnya” tukas Abi.

Sementara Mutee dan Abi dengan wajah serius menunggu jawaban Rere, Rere tiba-tiba saja mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Undangan pernikahan.

“Aurelia Aurita Nugroho dan Aditya Riza Soeryadjaya. Maksud lo re?” tanya Mutee terheran-heran.

“Ya gue mau nikah tek, bulan depan. Itu undangan buat lo sama Abi. Datang ya.”

Angin sore di Malang tiba-tiba terasa dingin dan menusuk tulang gadis yang bernama lengkap Mutiara Hapsari yang biasa dipanggil Mutee ketika tiba-tiba sahabat masa SMAnya menyodorkan undangan pernikahan.

Mengapa tiba-tiba re? Gumam Mutee dalam hati.

“Re, gue harus dapat penjelasan ini dari lo. Semuanya. Bukannya lo benci banget sama Adit? Kenapa lo tiba-tiba bisa nikah sama dia re? Rendy kemana re?”

Mutee tidak tahan. Ia mengutarakan semua apa yang menjadi pertanyaannya.

Rere nikah? Dengan Adit? Apa gak salah? Bukankah selama ini Adit adalah manusia yang paling dibenci Rere? Lalu kemana Rendy? Laki-laki yang dicintai sahabatnya?

“Lo kebiasaan deh tek, satu-satu biar Rere gak bingung jawabnya”.

Rere tersenyum mendengar pertanyaan sahabatnya. Ingatannya menerawang jauh pada kejadian-kejadian masa lalunya bersama sahabatnya ketika duduk di bangku SMA. Masa putih abu-abu itu tidak akan pernah Rere lupakan. Masa dimana ia mengenal dunia luar, masa dimana ia bisa merasakan cinta pertamanya, masa dimana ia mengerti bahwa pertemuan akan berakhir dengan perpisahan.

Satu per satu puing-puing kejadian masa lalu tergambar jelas di ingatan Rere. Senyum di bibir manis gadis berumur 23 tahun itu semakin mengembang ketika puing kejadian pertemuannya dengan Rendy tergambar jelas.

Rendy Hudo Yusodo

Laki-laki berperawakan tinggi, putih, dan bermata sedikit sipit itu akan terus memenuhi kenangan Rere selama masa putih abu-abunya. Laki-laki yang selalu menemaninya ke kedai kopi dimana Rere sekarang berada. Laki-laki yang Rere tidak tahu dimana keberadaan atau kabarnya.

“Re, jawab dong“

Rere tersadar dari lamunannya.


Ia kemudian menyeruput Hot chocolate favoritnya dan mulai menjawab serentetan pertanyaan dari sahabatnya, Mutee.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Haha, gimana? masih cupu banget ya?
Menerima kritik dan saran yang membangun, terimakasih ;')

Senin, 27 Februari 2017

40 km/jam : Say Hi !

hehehe, pengen nyoba nulis cerita menye-menye di blog ini. Semoga saya konsekuen ya.
emang udah tiga kali nulis kaya gini, tp mentok mentoknya gak jadi nulis cuma sampai sini aja.
semoga yg ini gak kaya gitu ya hehe



SEMANGAT !!!

Jumat, 20 Januari 2017

Serumah.com, solusi mencari kamar sesuai keinginanmu


Serumah.com 
Kemarin tiba-tiba Abah kosan saya mengumpulkan anak-anak kosan. Gak biasanya Abah tiba-tiba ngumpulin kita dan sepertinya ada sesuatu yang harus banget di bahas. Setelah semuanya berkumpul, bener aja kalo memang ada sesuatu yang akan di bahas.

Apakah itu?

Ternyata oh ternyata, kosan saya akan berpindah kepemilikan. Singkatnya sih, Abah yang punya hampir 8 kosan ini menjual kosnya yang kebetulan yang laku ke jual adalah kos yang saya tempati sekarang. Oleh karena itu, abah mengumpulkan kita semua untuk perpisahan.
Yah, berat sih sebenernya harus ninggalin kosan yang udah lama saya tempati. Udah hampir tiga kali pindah kosan selama kuliah di Malang baru kosan ini yang nyaman. Sebenernya kosnya biasa aja, tapi temen-temennya itu yang bikin betah. Sudah seperti sodara sendiri. Kalau ada apa-apa langsung ngomong, gak dipendem-pendem sendiri jadi antar penghuninya terbuka. Terlebih lagi saya sudah menginjak semester akhir, jadi males syekali buat pindah-pindah kosan angkut barang kesana-kesini yang sudah banyak banget.

Pas gak sengaja gugling tentang kos-kosan, tetiba saya tertarik buat baca artikel tentang serumah.com.

Jadi, Serumah.com itu adalah...

Sebuah website pencarian kamar kosan atau apartement. Jadi, buat kita-kita yang lagi bingung cari kosan bisa deh buka Serumah.com .

Apa aja fitur di Serumah.com?


fitur utama di Serumah.com

Kalau ngulik-ngulik di websitenya sih ada tiga fitur utama di serumah.com

Mencari Kamar Sewa
Jadi pada fitur ini, kita bisa mencari kamar sewa sesuai dengan keinginan kita. Kita dapat mencari properti yang kita butuhkan sesuai dengan budget (Price Range) dan juga lokasi (Map Function). Seru banget kan, di kamar yang bakalan kita sewa kita bisa milih-milih barang apa saja yang kita inginkan, misalnya nih kaya kamarnya ingin ada tv, rak, gitu gitu deh.

Mencari teman sekamar (roomate)
Di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini sudah banyak orang yang mencari teman sekamar. Hmm, jangan berpikir yang macam-macam. Maksudnya teman sekamar ini adalah teman untuk membagi uang sewa kamar. Nah, ini adalah fitur yang menurut saya paling beda dari tempat pencarian kos lain. Seru kan, bisa milih temen sekamar. Syukur-syukur bisa nyambung pasti lebih seru hehe

Mengiklankan kamar GRATIS
Buat kita yang mungkin punya usaha kos-kosan baru bisa banget buat ngiklaninnya di serumah.com dan gratis. Selain itu, buat kamu yg pengen punya roomate juga bisa mengiklankannya. Lumayan kan kalo gratisan gini.

Ikuti stepnya, mudah kok :)

Jadi, buat kalian-kalian yang lagi cari kos-kosan seperti saya bisa nih di coba pake website serumah.com selain bisa cari kosan kalian juga bisa langsung cari temen sekamar. Lumayan kan cari kosnya gak usah pusing-pusing dan capek-capek ngider kesana sini panas-panas, tinggal klik klik sudah bisa.

Selamat mencari

Sampai Jumpa
Semoga Bahagia 

Rabu, 04 Januari 2017

Pesona Pantai Batu Bengkung, Wedi Klopo, dan Ngopet dalam Satu Garis Pantai


Finally, saya bisa nulis lagi
Kaya merasa berdosa Desember sudah selesai dan tahun sudah berganti baru tapi tak kunjung menulis di blog ini. Maafkan saya yang hanya manusia biasa ini. Mau alesan ngejar dosen buat acc kayanya kok pada bosen ya denger alasan-alasan saya ini.

Jadi langsung saja ke ceritanya...

Setelah dua hari semalam menginap di Coban Talun, keesokan harinya 30 Oktober 2016 saya memutuskan untuk ikut dengan teman saya yang berencana ke pantai. Kalau ditanya capek sih ya capek, tapi mau gimana lagi udah sayang sama mereka (eh) gak deng cuma pengen banget ke pantai. Lagian pas ke cobannya saya gak main air jadi nanti mau di puas-puasin main air di pantainya.

Yah, sama seperti cerita ke pantai pantai sebelumnya. Kami janjian berangkat jam segini, kumpul disini, dengan pasangan boncengan ini dan kemudian berangkat. Squad saya kali itu ke pantai Tiara, Mbak Ilma, Metin, Mbak Della, Cicin, dan Frido. Yah, orang itu-itu lagi sih. apalagi Mbak Ilma dan Tiara emang bener-bener squad ke pantai bentar-bentar sedari ke Sendiki kemarin. Tapi senengnya gak ada yang telat sih, terbaiklah kalian ini.

Jalan ke pantai kali ini beda dengan jalan-jalan sebelumnya, kalau kemarin-kemarin saya ke pantai lewat jalan rusak apalah itu nama jalurnya kalau kali ini saya ke pantai lewat jalan bagus atau orang-orang menyebutnya jalur lintas selatan. Mengapa dinamakan seperti itu? Mungin penjelasannya bisa dibaca disini.

Tujuan kami hari itu adalah Pantai Batu Bengkung. Betapa bahagianya ketika sampai di loket karcis dan penjaga loketnya bilang kalau ke Pantai Batu Bengkung akan bisa sekaligus menikmati beberapa pantai diantaranya Wedi Klopo, Ngopet, dan Watu Leter hanya dengan 5000 rupiah. Menarikkan?

Pantai Batu Bengkung

ini spot bagus, sayang ombaknya gede

Karena tujuan kami adalah Pantai Batu Bengkung, setelah sampai tujuan kami langsung berhamburan ke bibir Pantai Batu Bengkung. Seperti namanya, pantai ini banyak berisi batu-batu karang yang kalo gak pake sendal lumayan tajam. Tapi saya akui sih memang pantainya bagus, gradasi warna pantainya keliatan. Ditambah lagi pasir dan karangnya mempercantik pantai ini. Banyak orang-orang bilang kalau ke Pantai Batu Bengkung itu nilai tambahnya bisa melihat sunset karena pantainya menghadap ke arah barat. Namun sayang, jika ke pantai ini kita tidak bisa berenang. Ya karena banyak karang dan memang ombaknya yang besar. Waktu itu aja pas saya mau foto tiba-tiba dari belakang “byuuuur”ombak gede menerpa tubuh yang lemah ini dan alhasil basah kuyuplah saya.

squad ke pantai bentar-bentar

Panta Wedi Klopo

ini di wedi klopo, sama aja sih sebenernya wkwk

Setelah capek foto, boomerangan, dan matahari semakin meninggi, akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke pantai selanjutnya yaitu Pantai Wedi Klopo. Pantai ini garis pantainya tidak cukup lebar dan airnya cukup tenang karena dibatasi langsung dengan dua karang yang buwesaar. Di Pantai Wedi Klopo kami tidak berlama-lama. Sekedar mengambil beberapa foto kemudian lanjut ke pantai selanjutnya.

Pantai Ngopet

Duh maap, gak ada foto bagus haha

Dan pantai terakhir yang kami kunjungi waktu itu adalah Pantai Ngopet. Pantai ini tak sebiru Pantai Batu Bengkung meskipun masih di satu garis pantai. Pantai ini lebih banyak karangnya kalo dibanding Pantai Batu Bengkung jadi kurang nyaman untuk bermain-main tapi pantai ini airnya lebih aman dan tenang jadi masih memungkinkan jika ingin berenang. Oh ya, harusnya kami bisa ke Pantai Watu Leter, tapi karena harus trackking dan sudah panas nan capek akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang. Mungkin next bisalah ya diagendakan untuk ke pantai itu.

Ketiga pantai itu terletak di daerah Malang Selatan tepatnya di Gajahrejo, Gedangan. Kalau ingin mudah lewat saja jalur lintas selatan. Jalannya baru diperbaiki jadi masih bagus.

Gak bosen-bosen sih saya ngingetin kalau ke alam, jangan ngerusaknya ya jaga alam kita agar tetap lestari.

Jadi, apa rencana libur panjang kalian guys?


nb : maaf ya, gak ada foto pantainya. Emang rencananya liburan haha

Selasa, 01 November 2016

Lalala Fest-nya anak Djanda di Coban Talun


Lalala fest
Masih inget cerita yang ini Ramadhan Penuh Berkah?
Nah, jumat sabtu (28-29 Oktober 2016) kemarin para anggota dari Djanda termasuk saya pergi bercamping ke Coban Talun. Hal ini berawal dari obrolan iseng di Soto Babon ITN yang menimbulkan perdebatan mengenai hari dan tempat bercamping yang akhirnya kami sepakat untuk bercamping di Coban Talun.

Perjalanan ke Coban Talun tidak semulus rencana kami. Awalnya kami yang bersekapat berkumpul di Kos Fikri selesai Jumatan ternyata ada dua anggota yaitu Ogix dan Mas Galih yang tidak bisa ikut berangkat selesai jumatan karena pekerjaan mereka. Jadi, siang itu Ira Fikri, Fachri dan saya berangkat terlebih dahulu untuk mencari tempat dan membangun tenda.
Coban Talun adalah salah satu air terjun di Malang yang terletak di Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur. Untuk menuju Air Terjun Coban Talun kita bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kedaraan umum. Di area Air Terjun Coban Talun sudah disediakan tempat parkir bus/truk juga, mengingat kawasan air terjun coban talun adalah hutan lindung yang sering digunakan untuk berkemah.

Sewaktu kami kesana tempat berkemahnya sudah full oleh tenda-tenda sampai beberapa kali harus muter-muter buat nyari tempat yang kosong. Mana pas dateng pas banget selesai hujan jadi jalan yang beraspal jadi licin dan jalan yang tanah jadi becek. Sempet juga motor yang saya tumpangi harus keselip-selip di beceknya tanah, untungnya gak sampai jatuh sih. Pas nyari tempat ini saya juga menemukan tempat yang instagramable buat foto. Kaya kemah-kemah Apache, kumpulan bunga-bunga, dan kebun tanaman wortel. Besok harus banget foto kesini, harus.

kemah apache. Photo by : Ogixx

Bunga syantik. Photo by Ogixx

Setelah 15 menit mencari tempat, akhirnya Fikri menemukan tempat yang cocok untuk kami mendirikan tenda. Tempatnya lumayan deket dengan warung dan deket banget dengan kamar mandi. Jadi kalo malem-malem saya kebelet pipis gak nyusahin temen-temen lainnya.

Cerita membangun tenda sore itupun tak semulus muka orang yang foto pake kamera 360, iya susah  kami salah strategi. Yang awalnya “ini kok tenda berasa melayang-layang sih” ternyata “oh, ini kan tenda dobel layer, harusnya dari dalem”.aah, ini framenya kok gak muat”ternyata “ooh, harusnya begini nih” dan pernyataan-pernyataan semacam itu lainnya.  Thanks, dapet ilmu lagi rek.

Jalan mencari tempat. Photo by Ogixxx

Setelah tenda berhasil didirikan, barang-barang selesai ditata, kebingungan melanda Fikri, Ira, Fachri dan saya. Kami kelaparan, tapi mau masak mie kompor ada di Mas Galih yang tak kunjung datang. Akhirnya kami memutuskan untuk makan snack sambil ngobrol ngalor ngidul dari cerita flashback ketemunya kita, cerita temen kita yang gokil, sampe cerita soal Korea. Iya, kita cerita dan nonton videonya Bigbang di hutan. Kebetulan si Ira suka Big bang, Fikri ngerti, dan saya ya dikit-dikit taulah soal bigbang soalnya adek saya VIP, tapi sayang banget si Fachri kek roaming gitu gak ngerti. Karena kasihan dan bosen kami memutuskan untuk main ABC lima dasar dan yang kalah harus mau di coret mukanya pake pensil alis. Seru, ngelihat para cowok-cowok saling membalas gambar-gambaran. Nanti kapan-kapan main lagi yak, hehe

Ditengah asyiknya main ABC lima dasar, terdengar suara motor yang menuju tenda. Hmm, langsung sok ide nih anak-anak pada pura-pura tidur sampe bener-bener dikira tidur. Eh, pas Mas Galih bilang “ni pada gak mau makan apa?”, si Fachri malah langsung bangun. Emang dasar bocah.

Selesai makan agendanya ngeliat bintang. Lumayan loh, bintang malem itu banyak banget. Kaya bener-bener under the star. Sayangnya bintangnya gak keliatan dari tenda. Dan malem itu bener-bener yang pertama kalinya saya tidur nyenyak di tenda padahal yang lain pada gak nyenyak dan susah tidur sampe-sampe si Fachri, iya Fachri lagi, kek bete gitu katanya gak nyenyak tidurnya. Ini nih bikin semua orang bete sama dia. Sampe-sampe pas kemarin banget Mas Galih marah-marah.

Pagi itu selesai beres-beres, makan, kami langsung berganti pakaian untuk foto. Tujuan camping ini adalah foto ala-ala lalala fest yang lagi heboh banget di instagram. Dan ogixxx sok ide banget nyuruh bawa baju coachella, hem putih, dan flanel. Tapi yang di pake Cuma hem putih sama coachella doang. Emang, nih ogixxx ngrepotin mulu jadi manusia. Btw, selamat ulang tahun ogix satu november kemarin. Meskipun ngrepotin dan nyebelin kita semua sayang kok.

Fachri, ogix, saya ira, fikri, Mas gal

Judulnya kami maen ke Coban Talun, tapi sayang banget kami gak ke cobannya. Jauh, dan bawa barang banyak jadi alasannya. Yah, semoga next ada kesempatan lagi buat kesana. Padahal dulu sempat kesana buat pelatihan kepemimpinan gitu. Tapi gak ke cobannya juga. Pokoknya kalo ada yang ngajakin kesana lagi harus ke cobannya.

Oh iya, buat informasi harga tiket masuk coban talun itu 5000 tiap orang, tapi kalau mau ngecamping jadi 11.000 tiap orang. Kalau mau gratisan dateng aja jam 4 sore ke atas, tapi jangan deh. Kasian yang ngelola coban talunnya gak dapet gaji, gak mau kan kalian kerja capek-capek tapi gak dapet gaji?

Kalau emang mau ke cobannya, kalian harus siap siap jalan. Jalannya lumayan jauh soalnya, butuh energi lebih. Jadi siapkan energi kalian ya gais. Bawa minum banyak deh, bawa jajan juga kalau perlu.

Percayalah, saya ndak bisa gitaran kok haha

Oke sekian cerita yang panjang ini, semoga bermanfaat ya.
Sudah lama tidak menulis jadi sepertinya tulisan ini akan kaku jika di baca

Sampai jumpa
Semoga bahagia